close

Health

Health

Ini Yang Terjadi pada Tubuh saat Batasi Konsumsi Garam dalam Seminggu

LANGITKU.NET, Jakarta – Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering disebut sebagai silent killer. Kendati demikian, perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memberikan dampak besar dalam mengelola tekanan darah.
Salah satu perubahan utama yang direkomendasikan untuk menurunkan tekanan darah adalah mengurangi asupan garam. Penelitian mengaitkan konsumsi garam yang rendah dengan penurunan tekanan darah.

Mengurangi Konsumsi Garam Selama Seminggu Bisa Menurunkan Tekanan Darah?

Dikutip dari laman Verywell Health, mengurangi asupan garam selama satu minggu bisa menurunkan tekanan darah hingga tingkat yang setara dengan obat-obatan yang umum digunakan untuk mengatasi hipertensi. Namun, bukan berarti mengurangi garam saja dapat menggantikan obat yang diresepkan dokter.

Sebuah studi pada tahun 2023 melibatkan orang dewasa lanjut usia yang mengikuti diet rendah natrium dengan hanya mengonsumsi 500 mg natrium per hari. Dalam hal ini, rata-rata orang Amerika mengonsumsi sekitar 3.500 mg natrium atau setara dengan 1¾ sendok teh garam setiap hari.

Dibandingkan dengan pola makan biasa yang dijalani peserta, diet rendah natrium menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 6 mmHg atau “poin”. Tekanan darah sistolik adalah angka atas pada hasil pengukuran tekanan darah yang menunjukkan tekanan di arteri saat jantung berdetak. Besarnya penurunan tekanan darah tersebut sebanding dengan efek yang umumnya diperoleh dari penggunaan hidroklorotiazid, salah satu obat untuk hipertensi.

Penurunan ini konsisten untuk semua kelompok, termasuk orang-orang dengan:

  • Tekanan darah normal
  • Tekanan darah tinggi yang tidak diobati
  • Tekanan darah tinggi yang sedang mengonsumsi obat antihipertensi.

Bagaimana Garam Meningkatkan Tekanan Darah?

Garam dapur atau natrium klorida terdiri atas sekitar 40 persen natrium dan 60 persen klorida. Natrium dalam darah inilah yang menyebabkan pengaruh terhadap tekanan darah.

Dikutip dari laman EatingWell, garam menarik air ke dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan volume darah. Akibatnya, tekanan darah ikut meningkat. Seiring waktu, terlalu banyak natrium dapat membuat tekanan darah tetap tinggi dan semakin membebani jantung.

Berapa Banyak Natrium yang Harus Dikonsumsi?
Natrium tetap perlu dikonsumsi setiap hari agar tubuh dapat berfungsi dengan baik. Orang dewasa sebaiknya membatasi asupan natrium hingga 2.300 mg per hari, dengan target ideal kurang dari 1.500 mg untuk menjaga tekanan darah tetap sehat.

Mengurangi konsumsi garam selama seminggu memang bisa menurunkan tekanan darah. Namun, jika asupan garam kembali meningkat, tekanan darah juga dapat naik lagi. Karena itu, lakukan pola makan rendah natrium secara konsisten untuk mempertahankan efek penurunan tekanan darah, seperti:

  • Fokus mengonsumsi makanan utuh, seperti buah-buahan segar, sayuran, biji-bijian utuh, dan daging tanpa lemak, dibandingkan makanan olahan atau makanan cepat saji.
  • Baca label informasi nilai gizi pada produk makanan dan pilih alternatif yang rendah atau bebas natrium.
  • Kurangi konsumsi makanan yang diawetkan atau diproses karena cenderung tinggi natrium.
  • Gunakan rempah-rempah untuk menambah cita rasa sebagai pengganti garam.

 

read more
HealthLifestyle

Jadi Minuman Favorit Gen Z, Ini Sederet Manfaat Matcha untuk Kesehatan Tubuh

LANGITKU.NET, Jakarta – Di mana ada kafe atau kedai kopi kekinian, di situ hampir pasti ada menu berbasis matcha. Mulai dari matcha latte, teh murni, matcha shot, hingga aneka hidangan penutup (dessert). Belakangan ini, bubuk teh hijau asal Jepang tersebut bahkan resmi dinobatkan sebagai salah satu minuman favorit dan bagian dari gaya hidup sehat generasi Z (Gen Z).
Sama seperti teh hijau pada umumnya, matcha sebenarnya berasal dari tanaman Camellia sinensis. Namun, cara budidaya yang unik membuat profil nutrisi matcha jauh lebih unggul.

Sebelum dipanen, petani akan menutupi tanaman teh dari paparan sinar matahari langsung selama sebagian besar masa pertumbuhan. Kurangnya sinar matahari ini justru memicu peningkatan produksi klorofil, mendongkrak kandungan asam amino, dan memberikan warna hijau yang jauh lebih pekat.

Setelah dipanen, batang dan urat daunnya dibuang, lalu daunnya digiling halus hingga menjadi bubuk. Karena dikonsumsi secara utuh dalam bentuk bubuk, matcha mengandunng seluruh nutrisi dari daun teh secara utuh, termasuk kafein dan antioksidan yang jauh lebih tinggi daripada teh hijau biasa.

Di balik trennya di kalangan anak muda, sejumlah penelitian ilmiah telah mengungkap berbagai manfaat luar biasa dari mengonsumsi matcha. Berikut di antaranya dikutip dari Healthline.

Manfaat Matcha
1. Kaya Antioksidan Kuat
Matcha sangat kaya akan katekin, yaitu kelas senyawa tanaman yang bertindak sebagai antioksidan alami untuk menstabilkan radikal bebas perusak sel pemicu penyakit kronis. Meskipun proses budidaya di tempat teduh membuat kadar katekin pada daunnya sempat menurun, namun ketika bubuk matcha dilarutkan ke dalam air, ia justru menghasilkan antioksidan tiga kali lipat lebih banyak daripada teh hijau biasa.

2. Meningkatkan Fungsi dan Fokus Otak
Bagi Gen Z yang membutuhkan fokus tinggi untuk belajar atau bekerja, matcha bisa menjadi asupan alternatif yang sangat baik. Riset terhadap 23 orang yang mengonsumsi 4 gram matcha menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada perhatian, waktu reaksi, dan daya ingat.

Matcha memiliki konsentrasi kafein yang lebih tinggi (19-44 mg/g) dibandingkan teh hijau biasa (11-25 mg/g). Menariknya, matcha juga mengandung senyawa L-theanine yang berfungsi memodifikasi efek kafein. Senyawa ini memicu kewaspadaan pikiran sekaligus mencegah efek lemas atau penurunan energi mendadak (energy crash) yang biasanya terjadi setelah mengonsumsi kafein biasa.

3. Membantu Menurunkan Berat Badan
Teh hijau sudah lama terkenal akan kemampuannya dalam membantu menurunkan berat badan. Sebuah tinjauan ilmiah menemukan bahwa konsumsi hingga 500 mg teh hijau per hari selama 12 minggu yang dibarengi dengan pengaturan diet dan olahraga, terbukti efektif menurunkan indeks massa tubuh (IMT). Karena matcha berasal dari tanaman yang sama dengan kandungan senyawa yang lebih pekat, efek serupa juga bisa didapatkan secara optimal.

4. Potensi Menjaga Kesehatan Organ Hati
Hati atau liver memiliki peran vital dalam menyaring racun dan memproses nutrisi. Tinjauan terhadap 15 penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berkaitan erat dengan penurunan risiko penyakit hati.

Meski demikian, para ahli mencatat bahwa efek matcha bisa berbeda bagi tiap individu. Konsumsi matcha terbukti membantu menurunkan kadar enzim hati yang berlebih pada penderita penyakit hati berlemak non-alkohol (NAFLD), tetapi riset lebih lanjut pada populasi umum masih terus dikembangkan oleh para ilmuwan.

 

 

 

 

 

source : DetikHealth

read more
Health

Benarkah Keju Bikin Kolesterol Naik? Ini Faktanya

LANGITKU.NET, Jakarta – Saat seseorang punya riwayat kolesterol tinggi, keju sering menjadi salah satu makanan yang langsung dicoret dari menu. Alasannya sederhana: keju mengandung lemak jenuh yang selama ini diketahui dapat meningkatkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) atau yang sering disebut sebagai “kolesterol jahat”.
Namun, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa hubungan antara keju dan kolesterol ternyata tidak sesederhana itu. Para peneliti menemukan bahwa efek keju terhadap kesehatan jantung tidak bisa dinilai hanya dari kandungan lemak jenuhnya saja. Ada faktor lain yang ikut berperan, mulai dari struktur makanan hingga pola makan secara keseluruhan.

Mengapa Keju Sering Dianggap Menaikkan Kolesterol?

Pandangan ini berasal dari berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. Karena itu, sejumlah organisasi kesehatan, termasuk World Health Organization dan American Heart Association, masih merekomendasikan pembatasan asupan lemak jenuh sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir para ilmuwan mulai mempertanyakan apakah dampak suatu makanan dapat dinilai hanya dari satu zat gizi yang dikandungnya. Menurut tinjauan ilmiah yang dipimpin Thorning dkk. dan diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition pada 2021, efek produk susu terhadap kesehatan jantung tidak dapat diprediksi hanya berdasarkan kandungan lemak jenuhnya. Peneliti menilai struktur makanan secara keseluruhan atau food matrix juga perlu diperhitungkan.

Temuan serupa juga disampaikan dalam tinjauan ilmiah yang diterbitkan di jurnal Advances in Nutrition pada 2023. Para peneliti menyebut bahwa bukti ilmiah saat ini menunjukkan hubungan antara produk susu dan kesehatan kardiovaskular lebih kompleks dibandingkan yang selama ini dipahami.

Dengan kata lain, keju memang mengandung lemak jenuh dan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar LDL bila dikonsumsi berlebihan. Namun, para peneliti mulai menemukan bahwa efek keju terhadap kolesterol tidak selalu sama dengan makanan lain yang juga tinggi lemak jenuh.

Karena itu, sejumlah studi kemudian membandingkan keju dengan sumber lemak susu lain, seperti mentega, untuk melihat apakah keduanya memberikan dampak yang sama terhadap kadar kolesterol.

Penelitian Terbaru: Efek Keju Ternyata Lebih Kompleks

Salah satu penelitian yang paling sering dijadikan rujukan dipublikasikan dalam jurnal American Journal of Clinical Nutrition pada 2011. Dalam studi yang dipimpin Janne Hjerpsted dan rekan-rekannya, peneliti membandingkan konsumsi keju dan mentega yang memiliki kandungan lemak setara.

Hasilnya cukup menarik. Setelah enam minggu, peserta yang mengonsumsi keju memiliki kadar kolesterol LDL lebih rendah dibandingkan kelompok yang mengonsumsi mentega dengan jumlah lemak yang sama. Peneliti juga menemukan bahwa konsumsi keju tidak meningkatkan LDL dibandingkan pola makan biasa yang dijalani peserta sebelum penelitian.

Temuan serupa sebenarnya telah muncul lebih awal. Dalam penelitian yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition pada 2005, Tholstrup dkk. menemukan bahwa lemak susu yang dikonsumsi dalam bentuk mentega meningkatkan kolesterol total dan LDL secara lebih besar dibandingkan jumlah lemak yang sama yang dikonsumsi dalam bentuk keju.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu penjelasan yang banyak diterima adalah konsep food matrix. Dalam tinjauan yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition pada 2021, Thorning dkk. menjelaskan bahwa tubuh tidak mencerna zat gizi secara terpisah. Kandungan protein, kalsium, proses fermentasi, serta struktur fisik keju dapat memengaruhi cara tubuh menyerap dan memetabolisme lemak.

Karena itu, efek keju terhadap kolesterol bisa berbeda dibandingkan makanan lain yang memiliki kandungan lemak jenuh serupa.

Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis Alexander dkk. yang diterbitkan dalam European Journal of Nutrition pada 2016. Setelah menganalisis berbagai penelitian observasional, para peneliti menemukan bahwa konsumsi keju tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner maupun penyakit kardiovaskular secara keseluruhan.

Meski demikian, bukan berarti keju dapat dikonsumsi tanpa batas. Keju tetap mengandung kalori, lemak jenuh, dan natrium yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi atau faktor risiko penyakit jantung lainnya. Para ahli menekankan bahwa yang paling menentukan adalah pola makan secara keseluruhan, bukan satu jenis makanan saja.

Jadi, benarkah keju bikin kolesterol naik? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Meski mengandung lemak jenuh, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa efek keju terhadap kolesterol dan kesehatan jantung dapat berbeda dibandingkan sumber lemak jenuh lain. Karena itu, keju tidak dapat dinilai hanya dari kandungan lemak jenuhnya. Namun, keju tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah wajar sebagai bagian dari pola makan sehat dan seimbang.

 

 

 

 

 

source : DetikHealth

read more
HealthLifestyle

Lagi Tren Main Padel Waspadai Saraf Kejepit, Ini Kata Dokter

LANGITKU.NET, Jakarta – Olahraga padel kini tengah menjadi primadona baru di kota-kota besar. Gabungan antara tenis dan skuas (squash) ini digandrungi karena dinilai lebih mudah dimainkan oleh pemula, seru, dan tentunya sangat estetik untuk diunggah ke media sosial.
Namun di balik keseruan memukul bola di dalam lapangan kaca, ada risiko kesehatan yang mengintai jika kita tidak berhati-hati. Salah satu cedera yang mungkin bisa terjadi adalah saraf kejepit.

Dokter spesialis bedah saraf, dr Victorio, SpBS dari Lamina Hospital mengatakan bahwa setiap orang sebaiknya tidak menganggap remeh olahraga ‘fun’ seperti padel.

“Olahraga padel berisiko terkena saraf kejepit itu apabila biasanya pada posisi swing atau saat kita memutar tulang pinggang kita. Kadang-kadang mengejar bola terlalu jauh,” kata dr Rio.

“Itu juga membuat diskus atau bantalan itu kaget, sehingga itu yang membuat bantalannya rusak, robek yang kalau terus-terusan dilakukan, itu bisa terjadi saraf kejepit,” lanjutnya.

Berbeda dengan tenis biasa, lapangan padel lebih kecil dan dikelilingi dinding kaca. Ini membuat ritme permainannya sangat cepat, menuntut pemainnya untuk terus bergerak aktif.

dr Rio menekankan pentingnya persiapan yang layak sebelum turun ke lapangan. Salah satunya adalah dengan ‘pemanasan’ sebelum tubuh digunakan untuk bermain padel.

“Pemanasan dan juga kita mampu mengukur kegiatan kita jangan berlebihan,” katanya.

 

 

 

 

 

 

 

source : DetikHealth

read more
Health

Jalan Kaki Saja Nggak Cukup! Ini 5 Trik untuk Menurunkan Berat Badan Saat Berjalan

LANGITKU.NET, Jakarta – Mencapai berat badan ideal menjadi dambaan bagi banyak orang. Salah satu cara untuk membantu menurunkan berat badan adalah dengan berolahraga.
Berjalan kaki menjadi salah satu olahraga yang diminati untuk mencapai berat badan yang diinginkan. Namun, jalan kaki seperti apa yang harus dilakukan demi mencapai tujuan ini?

Jalan Kaki Saja Bisa Menurunkan Berat Badan?
Spesialis kedokteran olahraga, Dr dr Listya Tresnani Mirtha, SpKO, CCD, Subsp APK (K) mengatakan bahwa aktivitas berjalan tentunya memiliki manfaat kesehatan. Namun, jika tujuannya untuk pengelolaan beat badan, tentunya harus dilakukan lebih terstruktur.

“Kalau ditanya bisa? Bisa dari berjalan, cuma bukan jalan yang biasa aja, jalan yang memang lebih terstruktur ada aturannya,” kata dr Listya.

Dia mengatakan, organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa yang melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150-300 menit per minggu. Jika dikonversikan, waktu tersebut setara dengan 7.000-10.000 langkah kaki per hari.

“Jantung memang harus dibuat untuk berdetak lebih cepat untuk bisa mendapatkan manfaat yang lebih dibandingkan sekedar berjalan biasa,” katanya.

Kendati demikian, kebutuhan langkah setiap individu bervariasi tergantung usia, kondisi kesehatan, dan tingkat kebugaran.

“Misalnya, untuk lansia, target langkah harian mungkin lebih rendah karena pertimbangan kemampuan fisik,” ucapnya.

Trik Menurunkan Berat Badan dengan Jalan Kaki
Selain memerhatikan jumlah langkah dan waktu berjalan, seperti yang direkomendasikan WHO serta menerapkan pola makan yang baik, berikut sejumlah tips menurunkan berat badan dengan jalan kaki mengutip Medical News Today.

1. Percepat Langkah
Seperti halnya berlari, berenang, atau bentuk latihan aerobik lainnya, kecepatan sangatlah penting. Berjalan dengan langkah cepat membakar lebih banyak kalori dibandingkan berjalan lebih lambat.

Dikutip dari laman Today, personal trainer Stephanie Mansour mengatakan berjalan cepat merupakan cara efektif untuk mengelola berat badan dan memperbaiki komposisi tubuh. Dia mendefinisikan jalan cepat yaitu dengan kecepatan 3-4 mil/jam atau sekitar 4,8-6,4 km/jam.

CEO American Council on Exercise, Cedric Bryant juga mencatat bahwa 4,8 km/jam adalah kecepatan yang baik untuk memulai berjalan kaki dengan tujuan menurunkan berat badan. Dengan begitu, seseorang bisa meningkatkan hingga 6,4 km/jam atau lebih cepat, seiring bertambahnya kebugaran.

2. Gunakan Rompi Pemberat
Menambah beban ekstra saat berjalan kaki akan meningkatkan kesulitan dan jumlah energi yang harus digunakan dalam proses tersebut. Namun, diperlukan latihan secara bertahap untuk terbiasa mengenakan beban tambahan tersebut. Orang dengan masalah punggung atau leher juga mungkin perlu menghindari cara ini.

3. Berjalan Menanjak
Berjalan kaki di area menanjak akan meningkatkan kesulitan dan menambah jumlah kalori yang dibakar. Cara lainnya bisa dengan lebih memilih menggunakan tangga atau eskalator.

Dikutip dari laman Healthline, jika menggunakan treadmill, lakukan hal berikut:

  • Atur treadmill ke posisi datar. Berjalan dengan kecepatan 3,2 km/jam selama lima menit untuk pemanasan
  • Atur kemiringan 1 persen. Berlari kecil dengan kecepatan 6,4 km/jam-9,6 km per jam selama 1 menit.
  • Tingkatkan kemiringan 1 persen setiap menit. Ulangi hingga mencapai kemiringan 8 persen-10 persen
  • Kurangi kemiringan sebesar 1 persen setiap menit. Ulangi hingga mencapai kemiringan 0 persen-1 persen
  • Berjalan dengan kecepatan 3,2 km per jam untuk pendinginan.

4. Fokus pada Bentuk dan Postur Tubuh
Penting untuk menjaga bentuk tubuh dan postur yang seimbang saat berjalan. Terkadang, hal ini sudah bisa membantu seseorang memperkuat otot-otot baru. Untuk memiliki postur yang baik, lakukan hal berikut:

  • Berdiri tegak dengan kepala, tulang belakang, bahu, dan pinggul sejajar
  • Tarik otot perut ke dalam
  • Letakkan kedua kaki selebar pinggul dan sejajar satu sama lain
  • Berjalan dengan pola dari tumit ke jari kaki.
  • Tekuk siku membentuk sudut siku-siku dan ayunkan lengan. Jaga agar tetap dekat dengan tubuh.

5. Gabungkan dengan Latihan Beban
Menambahkan latihan beban bisa membantu membakar lebih banyak kalori dan meningkatkan pertumbuhan otot baru. Adapun beberapa latihan yang bisa dicoba meliputi:

  • Squat
  • Push-up
  • Burpee.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

source : detikhealth

read more
HealthLifestyle

Butuh Tidur Berapa Lama untuk Menurunkan Berat Badan? Ini Temuan Riset Ilmiah

LANGITKU.NET, Jakarta – Pola makan yang sehat dan olahraga teratur menjadi andalan dalam pengelolaan berat badan. Tapi bukan itu saja, tidur yang cukup juga dapat membantu mengatur hormon nafsu makan dan asupan kalori.
Tidur bisa menjadi hal yang penting untuk penurunan dan pemeliharaan berat badan. Saat kurang tidur, mungkin seseorang akan tergoda untuk memesan makan malam hingga tidur larut karena terlalu kenyang.

Mengapa Kurang Tidur Membuat Orang Ingin Makan?
Dikutip dari laman Nature, ada dua alasan mengapa kurang tidur meningkatkan keinginan untuk makan. Pertama, saat kurang tidur pusat penghargaan di otak lebih aktif dan mendorong seseorang mencari ‘imbalan’. Hal ini termasuk makanan, terutama yang tinggi kalori dan tidak sehat. Kemampuan untuk menghambat dorongan untuk makan juga berkurang.

Kedua, saat tidur, kadar hormon ghrelin atau hormon lapar akan lebih tinggi. Dengan begitu, seseorang akan merasa lebih lapar dan mengonsumsi lebih banyak kalori.

Sebuah studi di American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa ketika orang kurang tidur, kebiasaan ngemil larut malam meningkat dan mereka cenderung memilih camilan tinggi karbohidrat. Sementara, studi lainnya di Universitas Chicago menyebut, peserta yang kurang tidur memilih camilan dengan kandungan lemak dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidur setidaknya 8 jam.

Berapa Jam Tidur Ideal untuk Menurunkan Berat Badan?
Spesialis kesehatan tidur di University of Chicago, Esra Tasali mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan bersama rekan-rekannya, durasi waktu di tempat tidur yang ditargetkan adalah hingga 8,5 jam.

Artinya, orang dewasa dianjurkan menghabiskan setidaknya 8 jam di tempat tidur dan tidak kurang dari 7 jam sebagai langkah awal yang baik. Penambahan durasi tidur tetap memberi manfaat.

Menariknya, ada hubungan antara bertambahnya waktu tidur dengan penurunan asupan kalori. Bahkan tambahan tidur selama 30 menit saja bisa mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi.

Para peneliti dari University of Chicago mengatakan bahwa kurang tidur membuat ‘lesu secara metabolik’ Hanya dalam waktu 4 hari kurang tidur, kemampuan tubuh untuk memproses insulin menjadi kacau.

Saat tidak bisa merespons insulin dengan benar, tubuh akan kesulitan memproses lemak dari aliran darah, sehingga menyimpannya sebagai lemak. Jadi, bukan berarti tidur akan menurunkan berat badan, tapi kurang tidur akan menghambat metabolisme dan berkontribusi pada penambahan berat badan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

source : detikhealth

read more
Health

Ternyata Ini 5 Alasan Perlu Minum Air Putih saat Bangun Tidur

LANGITKU.NET, Jakarta – Saat tidur, tubuh kita ‘berpuasa’ secara alami karena tidak ada asupan cairan selama beberapa jam. Padahal, tubuh tetap kehilangan air lewat napas dan keringat. Akibatnya, banyak orang bangun dalam kondisi sedikit dehidrasi.
Kekurangan cairan ini bisa membuat tubuh terasa lemas, pikiran lebih lambat, dan konsentrasi menurun. Karenanya, minum air putih setelah bangun tidur sangat penting dilakukan untuk membantu mengembalikan cairan yang hilang. Lalu, apa kata sains soal manfaat minum air putih di pagi hari? Berikut penjelasannya, dikutip dari Times of India.

1. Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang saat tidur
Saat malam, tubuh tetap mengeluarkan cairan lewat keringat dan napas, sehingga kita bangun dalam kondisi lebih ‘kering’ dari biasanya. Kondisi ini bisa membuat tubuh terasa lebih ngantuk, fokus menurun, dan performa fisik terasa lebih berat.

Penelitian yang dilakukan oleh Jéquier & Constant (2010) menunjukkan kurang cairan dalam tubuh berkaitan dengan gangguan konsentrasi, daya ingat, dan rasa tidak nyaman. Minum air putih setelah bangun tidur membantu memulihkan kondisi hidrasi dan membuat tubuh terasa lebih segar sepanjang hari.

2. Membantu mempercepat metabolisme
Minum air putih saat perut masih kosong saat bangun tidur dapat meningkatkan metabolisme. Efek ini disebut thermogenesis, dan membantu tubuh membakar lebih banyak kalori saat mencerna dan menyerap air.

Metode ini dapat meningkatkan pemanfaatan energi sekitar 30 persen hingga selama 40 menit.

Penelitian yang dilakukan Boschmann dkk (2003) menemukan minum 500 ml air dapat meningkatkan laju metabolisme sekitar 30 persen selama kurang lebih 30 hingga 40 menit setelahnya. Artinya, kebiasaan minum air putih di pagi hari bisa membantu tubuh ‘aktif’ lebih cepat.

3.Membantu detoksifikasi dan pencernaan
Air sangat penting untuk pencernaan lantaran membantu menggerakan makanan dan limbah melalui usus. Air juga membantu ginjal bekerja lebih baik dengan membuang racun yang menumpuk saat tidur.

Sebuah studi oleh Popkin dkk (2010) menemukan minum air yang cukup membantu makanan mengalir melalui usus dengan lebih mudah, yang membantu pencernaan dan buang air besar secara teratur. Minum air yang cukup juga membantu ginjal berfungsi dengan benar, yang membantu tubuh membuang polutan.

4. Membantu mood dan fungsi otak
Dehidrasi ringan saja bisa berdampak pada kemampuan berpikir. Saat cairan tubuh berkurang, sebagian orang lebih mudah merasa lelah, sulit fokus, mudah terdistraksi, hingga suasana hati menurun.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Ganio dkk (2011) menemukan dehidrasi ringan dapat memperburuk suasana hati dan kinerja kognitif. Karena itu, minum air putih segera setelah bangun tidur membantu rehidrasi dan membuat otak bekerja lebih optimal untuk memulai aktivitas.

5. Mencegah sakit kepala dan rasa lelah berlebihan
Sakit kepala dan lemas bisa dipicu oleh kurang cairan. Mengonsumsi air putih di pagi hari membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mencegah gejala-gejala tersebut muncul.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Benton (2011) menyebut sakit kepala dan kelelahan berhubungan langsung dengan kurang minum air. Dengan memulai hari lewat rehidrasi, tubuh jadi lebih siap beraktivitas dan energi terasa lebih stabil.

read more
Health

Kaki Nyeri gegara Asam Urat Kambuh, Begini 5 Cara Sederhana Mengatasinya

LANGITKU.NET, Jakarta – Asam urat atau gout adalah bentuk radang sendi yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan. Seringkali, nyeri terasa di jari kaki, pergelangan kaki, dan lutut.
Nyeri asam urat yang datang tiba-tiba bisa terasa sangat menyiksa. Tak jarang nyeri ini mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika merasakan nyeri asam urat, ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

Cara Mengatasi Nyeri Asam Urat
Berikut beberapa cara yang bisa membantu mengatasi nyeri asam urat:

1. Minum Banyak Air

Asam urat bisa menyebabkan pembengkakan dan peradangan yang signifikan. Dehidrasi merupakan salah satu faktor peyebab dari asam urat. Jad, minum air yang cukup bisa membanu mengurangi kambuhnya gejala asam urat.

Menurut Arthritis Foundation, minum air yang cukup mendorong ginjal untuk melepaskan cairan berlebih dan mengeluarkan asam urat dari tubuh, sehingga mengurangi gejala asam urat.

Air putih merupakan pilihan terbaik untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Tapi, cairan seperti kaldu dan teh herbal juga merupakan pilihan yang baik.

2. Kompres Es pada Persendian yang Sakit

Dikutip dari laman Medical News Today, mengompres sendi dengan es yang dilapisi kain bisa membantu mengurangi peradangan karena asam urat. Coba gunakan kompres es atau benda dingin lainnya yang dibungkus handuk tipis selama 20 menit untuk membantu meredakan nyeri.

3. Angkat Bagian yang Nyeri

Penyakit asam urat bisa menyebabkan nyeri dan pembengkakan, terutama di bagian kaki, tangan, lutut, dan pergelangan kaki. Salah satu cara untuk mengurangi pembengkakan adalah mengangkat sendi yang sakit. Cara ini mendorong darah dan cairan untuk menjauh dari sendi dan kembali ke jantung.

4. Minum Obat Pereda Nyeri

Meski obat antiinflamasi yang dijual bebas, seperti ibuprofen dan natrium naproxen bukanlah obat alami, obat-obatan ini bisa dipilih untuk mengobati nyeri dan peradangan akibat asam urat. Pastikan untuk mengonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan.

5. Minum Kopi

Sebagian orang percaya bahwa minum kopi bisa menurunkan risiko terkena asam urat. Berdasarkan sebuah studi tahun 2024, kopi mengurangi risiko asam urat dengan menurunkan kadar urat dan urea, sekaligus meningkatkan jumlah globulin pengikat hormon seks atau sex hormone-bindig globulin (SHBG) dalam darah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

source : detikhealth

read more
Health

Punya Tekanan Darah Tinggi? Jangan Pilih Menu Sarapan Ini!

LANGITKU.NET, Jakarta – Tekanan darah tinggi atau hipertensi seringkali disebut sebagai silent killer sebab gejalanya seringkali tidak terlihat. Kondis ini sering disebabkan oleh faktor genetik, pola makan yang buruk, hingga gaya hidup yang kurang aktif.
Meski tekanan darah tinggi bisa menyebabkan masalah yang lebih serius jika tidak diobati, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengelola dan menurunkan tekanan darah, salah satunya dengan mengonsumsi makanan rendah sodium. Selain itu, penting untuk mengetahui beberapa makanan yang sebaiknya dihindari.

Menu Sarapan yang Perlu Dihindari Pengidap Hipertensi

Dikutip dari laman Eat This, beberapa menu sarapan yang perlu dihindari oleh pengidap hipertensi yaitu:

1. Makanan Asin

Tanpa disadari, beberapa makanan sarapan populer mengandung banyak sodium. Padahal, banyak ahli gizi yang telah mengingatkan bahwa peningkatan natrium bisa menyebabkan tekanan darah tinggi.
Sebuah laporan dalam jurnal Nutrients menyatakan bahwa mengurangi asupan natrium tak hanya bisa mengurangi risiko hipertensi, tapi juga risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular. Menurut ahli gizi Amy Goodson, MS, RD, CSSD, LD, banyak dari sosis atau beberapa sandwich frozen yang dikonsumsi untuk sarapan mengandung sodium tinggi yang bisa menyebabkan tekanan darah tinggi jika dikonsumsi dalam jumlah besar dalam waktu lama.

“Jika Anda memilih salah satu makanan ini, penting untuk memadukannya dengan sesuatu yang rendah sodium, seperti buah atau biji-bijian utuh seperti oat,” kata Goodson.

2. Tidak Ada Buah dan Sayur

Kebiasaan lain yang tidak baik untuk pengidap tekanan darah tinggi adalah tidak mengonsumsi cukup buah dan sayuran di pagi hari. Dikutip dari laman Cleveland Clinic, orang dewasa yang mencoba menurunkan tekanan darah disarankan untuk mengonsumsi 5-9 porsi buah dan sayur dalam sehari. Jika tidak mengonsumsi 1-2 porsi saat sarapan, maka tujuan ini akan sulit tercapai.
“Buah dan sayuran secara alami bebas natrium dan banyak di antaranya mengandung kalium, yang bisa membantu menurunkan tekanan darah tinggi pada beberapa orang,” kata Goodson.

3. Terlalu Banyak Gula

Mengonsumsi terlalu banyak gula tambahan bisa menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan asupan gula juga bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik.
“Gula dan makanan olahan sangat memicu peradangan dan meningkatkan kadar gula darah serta respons insulin, juga respons peradangan dalam tubuh Anda. Peradangan juga dapat meninkatkan tekanan darah,” kata ahli diet Dana Ellis Hunnes, PhD, MPH, RD.

Hindari Melakukan Diet Ketat

Tak hanya beberapa menu sarapan yang perlu dihindari, kebiasaan melakukan diet ketat juga tidak baik untuk pengidap tekanan darah tinggi. Mungkin banyak orang yang berasumsi bahwa melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badan bisa membantu menurunkan tekanan darah. Namun, beberapa ahli gizi menyarankan untuk berhati-hati dalam seberapa ketat diet yang diterapkan.
“Menerapkan pola makan ketat dalam upaya menurunkan berat badan dengan cepat dapat membahayakan tekanan darah Anda,” kata ahli diet Rachel Fine, RDN.

Diet ketat diketahui bisa mengurangi banyak nutrisi yang dibutuhkan tubuh dan bisa merugikan orang-orang yang perlu menurunkan tekanan darah. Jadi jika ingin menurunkan bera badan, coba konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi tentang pola makan yang ramah hipertensi.

read more
Health

Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Minum Air Jahe Setiap Hari? Begini Penjelasannya

LANGITKU.NET, Jakarta – Jahe merupakan salah satu tanaman yang sering digunakan sebagai obat herbal. Cara mengolahnya pun beragam, salah satu yang paling populer adalah dengan merebusnya bersama air untuk diminum.
Mengonsumsi air jahe dapat memberikan efek kesehatan yang beragam, mulai dari mengatasi mual, meredakan flu, hingga menurunkan tekanan darah tinggi. Air jahe juga dapat dicampurkan dengan perasan lemon atau madu untuk meningkatkan khasiatnya.

Adapun manfaat yang bisa dirasakan dari mengonsumsi air jahe setiap hari, antara lain:

  • Membantu menurunkan berat badan
  • Mengurangi mual, dan morning sickness pada ibu hamil
  • Menyeimbangkan kadar gula darah
  • Melancarkan fungsi pencernaan
  • Membantu menurunkan tekanan darah tinggi
  • Menurunkan kadar kolesterol dalam darah
  • Mengatasi peradangan dalam tubuh
  • Memperkuat imun tubuh terhadap infeksi penyakit
  • Melindungi dari risiko penyakit jantung

Anjuran Minum Air Jahe dan Efek Samping

Dokter merekomendasikan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 3-4 gram ekstrak jahe per hari. Sedangkan ibu hamil disarankan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 1 gram ekstrak jahe setiap hari. Selain itu, air jahe juga tidak dianjurkan untuk anak-anak yang masih berusia di bawah dua tahun.

Berikut efek samping yang bisa terjadi jika mengonsumsi air jahe secara berlebihan:

  • Memicu heartburn atau nyeri di bagian dada
  • Menyebabkan diare, kembung, dan sakit perut
  • Menyebabkan hipotensi atau tekanan darah rendah
  • Meningkatkan risiko perdarahan, terutama jika dikonsumsi bersama obat pengencer darah
  • Memperlambat proses pembekuan darah
  • Meningkatkan risiko perdarahan pada ibu hamil
  • Menyebabkan hipoglikemia atau gula darah rendah jika dikonsumsi bersama obat diabetes

Meski air jahe aman dikonsumsi secara umum, orang yang ingin rutin mengonsumsi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu guna mencegah terjadinya komplikasi atau interaksi dengan obat-obatan yang sedang dikonsumsi.

 

 

 

 

 

 

 

 

source : health.detik.com

read more
1 2 3 15
Page 1 of 15