close

Sains & Techno

Sains & Techno

Leica RIlis Kamera Baru SL2-S

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Leica mengumumkan kamera baru yakni Leica SL2-S. Kamera ini menggunakan L-mount dan termasuk dalam L-Alliance.

Sesuai dengan namanya yang mengandung huruf S, yang berarti speed, sensitivity dan stability, Leica SL2-S memiliki fitur yang merefleksikan namanya.

Menggunakan 24MP CMOS-BSI full-frame sensor, kamera ini bisa memotret dengan kecepatan 25 fps (electronic shutter – DNG/RAW), 9 fps dengan mechanical shutter). Rentang ISO yang dapat digunakan lebih luas dari kamera sebelumnya yaitu ISO 50-100.000.

kamera Leica SL-S Foto: Dok. Enche Tjin

Di dalam kamera terdapat 5 axis stabilizer yang berguna untuk foto dan video, dan juga bisa dimanfaatkan untuk membuat multi-shot untuk membuat satu gambar dengan resolusi 96MP.

Fotografer yang juga bekerja untuk membuat video akan senang dengan kemampuan Leica SL2-S merekam video 4K di 30p, 10 bit 4:2:2 / C4K di 30p 10 bit 4:2:2 secara internal dan C4K di 60p 10 bit 4:2:2 via Full size HDMI. Tidak ada batasan waktu perekaman.

Leica juga menyiapkan Leica L-Log & 2 integrated viewing LUTs untuk ditampilkan di monitor/jendela bidik kamera atau monitor external.

Fotografer profesional yang bekerja di studio akan senang dengan integrasi dengan software Capture One versi 21 termasuk tethered shooting.

Desain kamera ini minimalis dengan hanya tiga tombol di bagian belakang, dua dial dan sebuah joystick. Pengaturan menu dipisahkan untuk Foto & Video supaya penggunanya bisa mengatur setting dengan cepat.

Bagi yang memiliki lensa-lensa manual fokus Leica M, akan senang karena kualitas gambar yang dihasilkan akan lebih baik karena desain sensor Leica SL2-S dioptimalkan supaya dapat menghasilkan foto yang paling optimal.

Leica SL2-S ini tersedia di Leica Store Jakarta, Plaza Senayan dengan harga Rp 79.200.000,- body-only.

Spesifikasi

* 24MP CMOS-BSI full frame sensor
* 25 fps electronic shutter, 9 fps mechanical shutter
* 4GB internal buffer memory
* Video recording up to 4K 60p 4:2:2 10-bit via HDMI
* Unlimited time recording
* 5 axis stabilization
* 5.76 MP EyeRes viewfinder
* IP54 protection -10C-40C
* Dual SD Card UHS-II
* Top LCD screen
* Full-Size HDMI
* Mic & headphone jack
* L-mount, L-Alliance
* Compatible dengan software Capture One 21
* Berat: 850g tanpa baterai, 931g dengan baterai
* Made in Germany

 

 

source : Enche Tjin, – detikInet

read more
Sains & Techno

Ini Drone Terbesar Sejagat, Beratnya 28 Ton

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Ini bukan drone biasa. Ukurannya merupakan yang terbesar di dunia dan fungsinya pun khusus, yaitu untuk melesatkan satelit menuju ke orbit Bumi.

Drone bernama Ravn X ini adalah buatan startup Aevum yang berbasis di Amerika Serikat. Panjangnya mencapai 24 meter. Ia dapat terbang dari manapun asalkan ada lintasan setidaknya sejauh 1,6 kilometer.

Bodi Ravn X dapat menggendong roket dan satelit. Begitu drone yang dapat beroperasi secara otomatis ini sudah mengangkasa dan berada di ketinggian yang tepat, maka roket yang dibawanya itu akan dilepaskan dan kemudian meluncurkan satelit kecil menuju orbit rendah Bumi.

Ravn X lebarnya 18 meter dan tingginya sekitar 5,4 meter, serta beratnya mencapai 28 ton. Angkatan Udara Amerika Serikat telah menjadi klien mereka untuk menerbangkan satelit senilai USD 4,9 juta di tahun 2021.

Jay Skylus selaku pendiri dan CEO Aevum menyatakan drone buatan mereka sebenarnya cukup mirip dengan pesawat tradisional dan dayanya berasal dari bahan bakar. Hanya saja bentuk dan operasionalnya memang seperti drone.

“Kami tidak memerlukan lokasi peluncuran. Semua yang dibutuhkan adalah landasan yang sepanjang 1,6 kilometer serta hanggar,” kata Skylus yang dikutip dari Independent.

Maka peluncuran satelit dengan drone ini dikatakan bisa lebih efisien, terlebih jumlah staff yang diperlukan hanya 10% dari penerbangan satelit konvensional. Banyak operasi juga bisa dilakukan secara otomatis dengan software.

“Apa yang kami buktikan adalah kelincahan, fleksibilitas, responsif dan juga operasional yang efisien,” klaim Skylus.

Ia menambahkan bahwa drone Ravn X merupakan kendaraan yang benar-benar jenis baru dan belum pernah ada sebelumnya. Skylus sendiri mendirikan perusahaan Aevum pada tahun 2016. Dia sebelumnya bekerja di NASA dan beberapa perusahaan antariksa komersial.

 

 

 

 

 

source : Fino Yurio Kristo – detikInet

read more
Sains & Techno

Siap-siap, Batas Umur Minimal Pengguna Medsos 17 Tahun

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Pemerintah berencana untuk menerapkan pembatasan usia penggunaan layanan media sosial (medsos) mulai dari Facebook, Twitter, maupun Instagram. Bila diterapkan, maka pengguna medsos tersebut harus berada di usia minimal 17 tahun.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengusulkan pembatasan usia pengguna medsos itu dimasukkan ke dalam Rancangan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (RUU PDP) yang saat ini masih dalam pembahasan antara pemerintah dan Komisi I DPR RI.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, bila melihat regulasi General Data Protection Regulation (GDPR) itu batasan di usia 16 tahun, tetapi nanti Indonesia akan lebih tinggi lagi.

“Batas usia ini memang peran orangtua itu penting dalam pemanfaatan teknologi digital. Contohnya saat anak saya waktu itu masih SMP dan belum 13 tahun, tapi teman-temannya sudah punya (akun medsos). Setelah 13 tahun, boleh punya akun Facebook tapi orangtua jadi teman pertamanya,” tutur Semual dalam diskusi virtual “Melindungi Jejak Digital dan Mengamankan Data Pribadi”.

“Nah, di RUU nanti batasannya bukan hanya 13 tahun. Kalau kita lihat GDPR itu batasannya 16 tahun, di Amerika juga. Di Indonesia dalam RUU PDP ini mengusulkan batasannya 17 tahun, di bawah 17 tahun harus ada consent dari orangtua,” sambungnya.

Dirjen Aptika menekankan bahwa peran orangtua terhadap anak yang memiliki akun medsos itu sangat penting. Sehingga persetujuan orangtua semacam ‘restu’ agar anak yang usianya di bawah persyaratan bisa membukan akun medsos.

“Memang ini akan menyulitkan. Kenapa harus dilakukan demikian? kalau tidak, nanti akan terputus hubungan anak dengan orangtua. Anak buat dunia sendiri, orangtua buat dunia sendiri. Ini bahaya, padahal (keluarga) itu unit terkecil yang perlu kita bina,” tutur mantan Ketua Umum APJII ini.

Berbicara sejauh mana sekarang pembahasanRUU PDP, Dirjen Aptika menyebutkan bahwa rancangan aturan tersebut sudah mencapai

“Kami sudah lakukan pembahasan dengan DPR dari 300 DIM, sudah terselesaikan separuhnya. Diharapkan segera dituntaskan tahun ini, kalau tidak awal tahun depan,” kata pria yang disapa Semmy ini.

 

 

source : Agus Tri Haryanto – detikInet

read more
Sains & Techno

Sony A7S III, Kamera Terbaik untuk Videografi

LANGITKU NETWORKS, Jakarta Seri kamera Sony A7S merupakan kamera yang dirancang lebih untuk videografi, dan A7S generasi ketiga ini cukup lama masa pengembangannya yaitu selama lima tahun. Lima tahun bukan waktu yang singkat dan tentunya banyak peningkatan dari Sony A7S II.

Sensor yang digunakan tetap 12MP dengan arsitektur BSI yang lebih cepat dan di kondisi gelap lebih baik, dan dual processor Bionz XR untuk memproses data video dan memungkinkan perekaman video 4K 120p 10 bit 4:2:2 internal dan Full HD 240p, bisa juga merekam 4K RAW secara external.

Desain kamera

Secara desain, A7S III mengikuti Sony A7 lainnya yaitu seperti kamera DSLR dengan jendela bidik di bagian atas kamera dan dengan pegangan yang cukup besar. Yang berbeda di A7S III adalah adanya layar LCD yang bisa diputar ke samping dan segala arah, dan sedikit lebih tebal dari A7R IV karena A7S sudah menggunakan full size HDMI port.

A7S III juga punya dual card slot, tapi bedanya bisa menerima kartu CF Express Type A selain SD Card biasa. Jendela bidik optiknya merupakan desain baru dengan resolusi 9 juta titik dan perbesaran 0.91x menjadikannya paling besar dan detail di kamera mirrorless saat ini. Bagi yang menggunakan kacamata, ada opsi zoom out 33% supaya bisa melihat lebih jelas sampai ke ujung-ujung frame.

Untuk menu, ada perubahan yang besar dari seri Sony Alpha sebelumnya, karena sekarang sudah bisa touch-menu dan organisasi menunya menggunakan sistem vertikal daripada horizontal. Ada kode warna dan sub menu sehingga memudahkan untuk mencari menu item.

Sony A7S III untuk fotografi

Karena kamera ini hanya memiliki 12MP, maka A7S III jarang dilirik oleh fotografer, karena banyak pilihan yang lebih baik dari Sony misalnya lini Sony A7R atau dari brand lain yang resolusinya lebih besar. Sebenarnya resolusi 12MP cukup baik untuk media sosial seperti instagram, tapi tidak untuk cetak foto ukuran besar (lebih besar dari 60cm).

Dynamic range kamera ini di ISO rendah sangat baik, bagian shadow saat foto pemandangan bisa diterangkan sampai sekitar 4 stop tanpa penurunan kualitas yang berarti. Ini tentu merupakan kabar gembira bagi yang suka motret di kondisi kontras tinggi.

Bagi yang ingin hasil foto atau video dengan warna dan tonal yang sudah “matang” dari kamera, tersedia Creative Look sebagai pengganti Creative Style. Ada 10 Creative look yang tersedia diantaranya ST, NT, PT, dll. Perbedaan dengan Creative Style adalah pilihan adjustment/ fine tune yang lebih kaya, misalnya kita dapat mengubah Highlight shadow, Fade, Sharpness, Clarity dari 0-9 tingkat.

Pilihan untuk merekam format file HEIF yang lebih bagus dari JPG tapi tidak lebih besar juga tersedia dalam dua mode, HEIF 4:2:2 dan HEIF 4:2:0.

Sony A7S III untuk Videografi

Untuk videografinya spec yang ditawarkan A7S III sangat tinggi karena dapat merekam 4K 120p 10-bit 4:2:2 internal, selain itu juga bisa merekam 16-bit RAW secara external via HDMI. Kelebihan utama lainnya yaitu kemampuan di low light. Dengan membatasi jumlah MP ke 12MP, ukuran pixel secara individu jadi lebih besar dan mampu merekam video di kondisi gelap (ISO 4000-25600) relatif bersih dari noise.

S-Log Gamma3 yang tersedia bisa di matching dengan lini kamera Cinema Sony. Base ISO untuk S-Log Gamma nya ISO 640, tergolong lebih baik daripada A7S II yang 1600 dan A7III yang 800, tapi tidak lebih baik dari A7R IV yang mulai dari ISO 500.

Sony A7S III juga punya alternatif kompresi baru XAVC HS yang lebih efisien 2 x kali lipat X-AVCS tapi dengan software tertentu.

Autofocus

Sistem autofokus di kamera Sony tentunya sudah terkenal sejak Sony A6000 sampai Sony A7RIV, di A7SIII juga demikian, tapi ada peningkatan yaitu adanya touch tracking dan object tracking yang lebih terintegrasi. Kinerja autofokus saat video juga baik untuk kondisi terang maupun gelap seperti malam hari.

Satu hal yang menarik adalah pilihan AF transition speed dan subject shift sensitivity dimana videografer kini bisa mengatur hingga 7 step untuk transition speed untuk peralihan fokus yang lembut dan menyerupai manual fokus dengan tangan.

A7S III juga punya stabilizer lima axis di body (Steadyshot) dan pilihan electronic stabilizer. Tersedia pilihan active dan standard mode, yang menstabilkan footage video secara otomatis. Electronic stabilization di kamera lebih baik daripada secara software karena adanya gyro sensor yang menyematkan data ke dalam file video.

Videografer juga bisa merekam tanpa stabilization dan kemudian memproses stabilization di software khusus Sony yang bernama Catalyst Browser, software ini gratis dan kedepannya mungkin akan lebih banyak software editing yang dapat membaca dan memanfaatkan gyro data dari kamera Sony. Untuk hasil yang paling optimal, penggunaan lensa Sony sangat direkomendasikan terutama lini lensa Sony G-Master.

Kekurangan Sony A7S III

Tidak banyak yang bisa dikritik dari kamera ini, beberapa hal yang kami rasakan adalah kamera ini menjadi agak besar, sedikit lebih rumit dalam setting dan istilah-istilah di menu dan perlunya kustomisasi tombol supaya lebih mudah beradaptasi dengan antarmuka kamera.

Untuk fotografi, kamera ini hanya memiliki 12MP. Di tahun 2015 mungkin masih baik, tapi untuk 2020, dimana kamera full frame pemula rata-rata sudah 24MP, resolusi 12MP terasa kurang meskipun kinerja low light dan dynamic range-nya sangat baik.

Untuk file videonya, jika menggunakan kompresi Long GOP, untuk mengeditnya agak lambat dan patah-patah, perlu processor yang sangat tinggi specnya, untuk All I akan lebih mulus tapi ukurannya bisa 3 atau 4 kali lebih besar daripada Long GOP sehingga videografer perlu mempersiapkan memory card dan hard disk / SSD dengan ukuran besar.

File S-Log Gamma3 Sony juga salah satu yang agak tricky untuk video editor, membutuhkan ketrampilan dalam post processing video untuk menghasilkan warna dan tonal yang diinginkan.

Untuk autofokus bekerja dengan baik dan cepat, tapi di beberapa keadaan misalnya backlight kadang kamera sulit mengunci fokus, tapi di kondisi normal aman. Performa autofokus juga akan tergantung dari kualitas motor fokus lensa yang digunakan.

Kesimpulan

Penantian lima tahun terbayar sudah di Sony A7S III. Dalam lima tahun belakangan Sony telah mendengar dan meriset dengan baik apa saja yang paling diinginkan oleh videografer masa kini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Sony A7S III adalah salah satu kamera yang terbaik untuk videografi saat ini yang fleksibel untuk berbagai kondisi syuting.

 

 

 

source : Enche Tjin, – detikInet

read more
Sains & Techno

Canon Bakal Produksi Sendiri Lensa Untuk Smartphone

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Aksesoris seperti tambahan lensa kamera untuk smartphone bukanlah hal yang baru, namun produksi ini justru dilakukan baru dari pembuat kamera seperti Canon, Nikon ataupun Fujifilm.

Kini dilaporkan, Canon tampaknya akan membuat sendiri produk lensa tambahan untuk smartphone.

Dilansir dari Ubergizmo, Rabu (28/10/2020) laporan tersebut ditemukan oleh Design Watch dimana Canon memiliki paten untuk aksesoris tersebut.

Paten tersebut tidakkah hal yang benar-benar baru seperti yang diajukan pada tahun 2019 dan hanya diberikan kepada perusahaan pada bulan September 2020. Meskipun paten tersebut menarik namun namun hal itu tidak selalu menjadi jaminan di masa mendatang.

Seperti gambar yang beredar aksesori lensa ini memiliki ukuran yang agak besar dan tebal. Namun dengan ukurannya yang besar dapat menampung kaca smarpthone hingga dapat meningkatkan kualitas gambar secara keseluruhan.

Selain itu, tampaknya lesan Canon ini tidak bergantung pada kamera smarpthone itu sendiri, di mana mungkin akan dihadirkan juga perangkat lunak kamera dari Canon.

Hal menariknya dari ini, Sony sebelumnya telah mencoba hal serupa di masa silam dengan produk Sony QX10 dan QX100 yang diluncurkan pada tahun 2013. Sayangnya produk ini gagal di pasaran.

Saat ini Canon mencoba hal tersebut meski saat ini faktanya bahwa kamera pada smartphone telah berkembang pesat dalam hal fungsionalitas dan kualitas. Tetapi, ini menarik untuk melihat perusahaan melihat potensi berkembang lebih dari sekadar menciptakan peralatan kamera yang lebih tradisional.(jalu)

 

 

 

source : Josina – detikInet

read more
Sains & Techno

Chrome OS Google Diberikan Mode Gelap

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Chrome OS akhirnya mendapatkan fitur dark mode atau mode gelap yang sudah banyak diterapkan di banyak aplikasi. Namun, menurut laporan fitur ini baru terlihat di channel eksperimental Chrome Canary.

Sebelum pengguna mengutak-atik Chrome Canary, perlu diperhatikan beberapa hal. Canary adalah jalur Chrome OS terbaru dari Google yang menerima pembaruan fitur harian sebelum diuji secara luas.

Dilansir  dari The Verge, Senin (26/10/2020) Canary hanya dapat diakses dari Chromebook yang dialihkan ke mode pengembang khusus. Google pun memperingatkan bahwa Canary bisa menjadi tidak stabil.

Namun saat ini untuk mengaktifkan fitur dark mode di Chromebook, pengguna perlu memasang saluran Canary. Melansir laporan dari Android Central yang mencoba fitur ini mengatakan pengguna perlu membuka Chrome dan mengetik chrome://flags/ #enable-force-dark dan chrome://flags/#enable-webui-dark-mode ke dalam bilah URL.

“Saya harus perhatikan bahwa saya mencoba ini di Chromebook lama saya dan tidak dapat membuatnya berfungsi. Tapi inilah tampilan yang ditangkap oleh situs Android Police,” kata Android Police.

Fitur mode gelap ini memiliki beberapa bug, tetapi catatan itu tampaknya berlaku di seluruh UI, tidak hanya sebagai latar belakang yang lebih gelap.

Google telah meluncurkan versi mode gelap untuk Gmail, Google Kalender, Google Fit, dan aplikasi mobilenya selama beberapa bulan terakhir. Baik di perangkat iOS dan Android sama-sama mulai mendukung mode gelap di tingkat sistem tahun lalu.

 

source : Josina – detikInet

read more
Sains & Techno

Nikon Indonesia Tutup!

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Bertambah lagi perusahaan yang tutup operasi di Indonesia di tengah pandemi Corona. Kali ini giliran produsen kamera Nikonyang berpamitan dari Tanah Air.

Kabar ini disampaikan langsung oleh Nikon Indonesia lewat akun resmi Instagram mereka.

“Setelah hampir 8 tahun perjalanan Nikon Indonesia, kami informasikan bahwa hari ini tanggal 21 Oktober 2020 adalah hari terakhir Imaging Division PT Nikon Indonesia beroperasi di Indonesia,” demikian pengumuman Nikon.

Meskipun berhenti beroperasi, layanan dan dukungan unutk para konsumen Nikon tetap akan dilanjutkan. Nikon mengatakan semua kegiatan penjualan, marketing dan servis diintegrasikan ke PT Alta Nikindo, selaku distributor resmi Nikon di Indonesia.

“Kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan dan kerjasamanya yang membuat Nikon menjadi salah satu brand fotografi terpercaya di Indonesia,” kata Nikonberpamitan.

Pengumuman Nikon ini langsung disambut dengan emoticon menangis dan sedih dari para netizen di Instagram. Bagaimana tidak sedih, banyak orang yang sudah memakai kamera Nikon untuk berbagai kebutuhan.

Gelagat Nikon menutup bisnisnya sebenarnya sudah ada. Pada Rabu pagi, Nikon mengumumkan penonaktifan kartu dan layanan Nikon Z Privilege Membership mulai 21 Oktober 2020 pukul 23.59 WIB.

Terima kasih Nikon sudah membantu pehobi fotografi selama ini…(jalu)

 

 

 

source : Fitraya Ramadhanny – detikInet

read more
Sains & Techno

iPhone 12 Dipercaya Jadi iPhone Terlaris Setelah iPhone 6

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Sejumlah operator di Taiwan memprediksi kalau iPhone 12 bakal menjadi iPhone paling laris setelah iPhone 6 dan iPhone 6 Plus.

Prediksi ini dilontarkan setelah mereka membuka keran pemesanan untuk iPhone 12, yang langsung ludes terpesan dalam waktu 45 menit. Meski tak diketahui berapa jumlah unit yang bisa dipesan lewat operator.

Sementara itu di Amerika Serikat, iPhone 12 Pro pun habis terpesand alam waktu singkat. Sementara pengiriman produknya sendiri diperkirakan bakal mundur ke November, demikian dikutip detikINET dari Macrumors, Senin (19/10/2020).

Bahkan, karena permintaannya disebut sangat tinggi, baik Pegatron maupun Foxconn — perusahaan perakit iPhone — disebut meningkatkan bonus untuk para pegawainya yang bekerja di lini produksi iPhone.

Baik iPhone 12 maupun iPhone 12 Pro memang sudah bisa dipesan di beberapa negara sejak Jumat (16/10/2020) lalu. Sementara iPhone 12 mini dan iPhone 12 Pro Max baru bisa dipesan pada 6 November mendatang.

Sebagai perbandingan, pada 2014 lalu iPhone 6 dan iPhone 6 Plus juga merupakan iPhone yang sangat populer karena ukuran layarnya yang lebih besar ketimbang pendahulunya, yaitu 4,7 inch dan 5,5 inch.

Penjualan kedua unitnya tercatat memecahkan rekor, yaitu 135,6 juta unit pada dua kuartal setelah kedua perangkat itu diluncurkan. Namun kedua iPhone tersebut disetop penjualannya pada tahun fiskal 2018, dan jumlah penjualan iPhone 12 diperkirakan bisa bersaing dengan kedua iPhone pendahulunya itu.

Ada empat varian iPhone 12 yang ditawarkan Apple, yaitu iPhone 12 Mini, iPhone 12, iPhone 12 Pro, dan iPhone 12 Pro Max. Dua varian yang perbedaannya paling signifikan adalah iPhone 12 Mini, yang layarnya hanya 5,4 inch dengan bodi setara iPhone 6. Lalu ada juga iPhone 12 Pro Max, yang punya sensor kamera belakang ekstra besar, ukurannya 40an% lebih besar ketimbang iPhone versi lain.(jalu)

 

 

source : Anggoro Suryo Jati – detikInet

read more
Sains & Techno

Lagi, Samsung sindir iPhone 12 karena dijual tanpa charger

LANGITKU NETWORKS, – Untuk kedua kalinya, Samsung menyindir smartphone keluaran terbaru Apple, yakni iPhone 12, karena ponsel tersebut dijual tanpa disertai charger dan earphone dalam kotak pembelian.

Dengan demikian, pengguna “dipaksa” untuk membeli kepala charger atau earphone secara terpisah. Hal itu lantas dimanfaatkan Samsung sebagai bahan sindiran untuk Apple.

Melalui akun Facebook resmi Samsung, vendor ponsel Korea Selatan itu mengunggah foto aksesoris charger dengan caption yang seolah menyindir iPhone 12.

“Produk Galaxy kami memberikan apa pun yang Anda butuhkan, mulai dari charger, kamera, baterai, kinerja, memori yang andal, bahkan layar smartphone dengan 120 Hz,” tulis Samsung dalam unggahannya.

Hingga berita ini ditayangkan, postingan yang pertama kali diunggah pada 14 Oktober 2020 itu telah disukai 106.000 kali.

Berdasarkan pantauan KompasTekno, Jumat (16/10/2020) sore, unggahan Samsung tersebut turut menuai berbagai komentar dari warganet.

“Bayangkan jika ponsel tidak memiliki charger dan earphone,” tulis akun Mychael Jordan.

“Tak sabar menunggu Samsung untuk memiliki produk seperti MagSafe secara tiba-tiba,” tulis akun Insaf Huwais.

“Ini alasan mengapa saya mencintai produk Samsung,” tulis akun DjJwonda Duke.

“Apakah mungkin, satu tahun kemudian Samsung juga akan melakukan hal yang sama?,” tulis akun Andrew Lee.

Sebelumnya, Samsung juga sempat mengutarakan sindirannya terkait tema “Hi, Speed” yang dipakai Apple dalam acara peluncuran iPhone 12. Akun Twitter resmi Samsung mengatakan mereka lebih dulu menghadirkan ponsel berbekal konektivitas tinggi 5G.

“Beberapa orang hanya menyapa dengan kata-kata “Hi, Speed”, kami sudah berteman lebih dulu dengan sebutan itu. Dapatkan perangkat Samsung Galaxy 5G Anda sekarang di tautan ini http://smsng.us/5Gproducts ,” tulis Samsung dalam kicauannya.
Keputusan Apple untuk tidak menyertakan charger dan earphone dalam boks iPhone 12 bukanlah tanpa alasan. Apple sengaja menghilangkan kedua aksesori tersebut dengan alasan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan.

“Ini merupakan upaya kami untuk menjaga lingkungan. iPhone 12 tidak menyertakan adaptor daya atau EarPods. Silakan gunakan adaptor daya dan headphone Apple Anda yang saat ini masih terpakai, atau membeli aksesori tersebut secara terpisah,” ungkap pihak Apple.

Di samping itu, dengan tidak menyertakan kepala charger, kotak penjualan iPhone 12 juga bisa dirancang seramping mungkin, sehingga lebih ramah lingkungan. Sebab, kepala charger biasanya memiliki dimensi tebal dan memakan tempat.

source : Kompas.com

Penulis: Conney Stephanie

Editor: Reska K. Nistanto

read more
Sains & Techno

Mengapa Masa Depan Mengarah ke Kamera Full Frame?

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Meskipun masih dalam kondisi pandemi global, dalam tiga bulan terakhir (Juli-September 2020), perusahaan kamera sangat aktif dalam meluncurkan kamera baru. Tujuh kamera baru yang diluncurkan bersensor full frame, dan dua diantaranya micro four thirds.

Kamera tersebut adalah Canon EOS R5 & 6, Nikon Z5, Sony A7S IV & A7C, Lumix S5, Leica M10-R, dan kamera micro four thirds adalah Lumix G100 dan Olympus OMD EM10 IV.

Pertama, membuat kamera dengan sensor besar dapat memperoleh profit margin yang lebih besar daripada membuat sensor yang lebih kecil. Fotografer sepertinya akan lebih bisa menerima membayar lebih untuk kamera bersensor besar daripada kamera bersensor APS-C.Melihat pola ini saya jadi berpikir, apa kabar kamera bersensor APS-C? Mengapa semua pabrikan tidak hanya membuat kamera mirrorless tapi juga bersensor full frame belakangan ini? Alasan melakukannya bisa bermacam-macam, dua perkiraan saya antara lain:

Di benak konsumen ada perasaan bahwa kamera bersensor APS-C seharusnya memiliki harga antara Rp 5 – 15 juta, sedangkan untuk kamera full frame, konsumen sudah terbiasa menerima bahwa kamera full frame memiliki harga sekitar 15-50 juta atau bisa juga lebih sesuai kinerja kameranya.

Dengan pasar kamera yang makin menyusut, tentunya membuat dan menjual kamera APS-C dengan harga rendah akan semakin sulit untuk pabrikan kamera saat ini dan ke depannya.

Kedua, dengan berkembangnya kamera mirrorless, kamera dengan sensor full frame bisa dibuat jauh lebih compact dibandingkan dalam bentuk kamera DSLR karena ketiadaan kotak cermin (mirror box SLR) dan jendela bidik optik. Dengan ukuran kamera yang lebih compact, kamera full frame jadi lebih menarik bagi fotografer enthusiasts dan profesional.

Meskipun kamera full frame sudah bisa dibuat compact, bahkan lebih compact dan ringan dari kamera bersensor APS-C, tapi lensa-lensa full frame masih agak besar, terutama lensa zoom yang berkualitas tinggi atau lensa fix berbukaan besar, f/1.4 misalnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, fotografer bisa menggunakan lensa yang lebih kecil, yang ditujukan untuk sensor APS-C, karena sebagian besar pabrikan kamera mengadopsi sistem one mount, artinya kamera APS-C dan full frame mereka memiliki mount lensa yang sama, sehingga kita bisa memasang lensa APS-C ke kamera full frame dan sebaliknya, memasang lensa full frame ke kamera APS-C.

Dengan memasang lensa APS-C yang berdiameter lebih kecil ke kamera full frame, bukannya itu merupakan kerugian? APS-C crop akan menurunkan resolusi foto, misalnya kamera full frame 61 MP akan mendapat 26MP, 45MP akan mendapat 20MP, dan 24MP akan mendapatkan 10MP. Memang hal ini merupakan ketidakoptimalan.

Tapi jika melihat kamera full frame sudah ada yang mencapai 61MP (Sony A7R IV) dan APS-C Cropnya 26MP (setara dengan kamera Fuji X-T4 yang sensornya APS-C), dan ke depannya mungkin yang lain akan menyusul atau bahkan di masa depan akan ada kamera full frame dengan sensor 80 atau 100MP, yang mana APS-Crop-nya menghasilkan sekitar 41 dan 33MP.

Di lain pihak, pengembangan teknologi sensor untuk kamera APS-C atau micro four thirds lebih pelan perkembangannya dan sepertinya jika melihat penyusutan volume penjualan kamera, maka pengembangannya akan lebih lambat dan tergantung dari pengembangan sensor full frame.

Dengan munculnya beberapa kamera full frame mirrorless baru yang makin terjangkau dan good value seperti Nikon Z5 (Rp 22 juta), Sony A7C (Rp 26 juta) dan Lumix S5 (Rp 30 juta), saya memprediksikan akan semakin banyak kamera mirrorless full frame yang akan dirilis di beberapa tahun ke depan.

Bagaimana dengan APS-C atau sensor micro four thirds? Beberapa pabrikan kamera akan tetap membuatnya tapi tidak dalam jumlah besar dan tiap kameranya mungkin punya desain/kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh kamera lain seperti Fuji X-PRO, kamera Ricoh GR, dan seri Lumix GH yang unggul di video.

 

source : Enche Tjin, – detikInet

read more
1 3 4 5 6 7 12
Page 5 of 12