close

Health

Health

Konsumsi Vitamin C Dosis Tinggi untuk Cegah Virus Corona Tak Berguna

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Sejauh ini tidak ada pil, suplemen, atau vaksin, yang bisa menyembuhkan penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona. Kendati demikian, hal itu tak menyurutkan minat orang untuk memborong vitamin C dosis tinggi.

Seperti halnya ramuan rempah-rempah yang harganya langsung melambung karena dianggap bisa mencegah infeksi virus corona, saat ini vitamin C juga laris diburu masyarakat. Di Amerika Serikat saja, terjadi peningkatan penjualan vitamin C sampai 146 persen.

Di media sosial bertebaran anjuran untuk mengonsumsi vitamin C dosis tinggi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan melawan virus corona.

Tetapi, apakah vitamin C dosis tinggi itu memang efektif menangkal infeksi virus?

Vitamin C merupakan suplemen vitamin yang paling populer. Kaitan antara vitamin ini dengan kemampuannya melawan penyakit dibuat oleh peraih Novel Kimia, Linus Pauling, yang menulis buku Vitamin C and Common Cold. Dalam bukunya, Pauling merekomendasikan 3000 miligram vitamin C setiap hari.

Buku yang ditulis tahun 1970-an tersebut sangat laris dan dicetak ulang dengan klaim bahwa bisa mengatasi epidemi flu babi (swine flu).

Studi-studi ilmiah selanjutnya menunjukkan bahwa klaim Pauling itu tidak akurat. Ketika ia menyebutkan vitamin C bisa menyembuhkan kanker, ia kehilangan kredibilitasnya di komunitas ilmuwan.

Walau begitu, keyakinan bahwa vitamin C bisa menyembuhkan flu tetap bertahan di masyarakat. Angka penjualan suplemen vitamin ini pun selalu berada di urutan teratas.
Menurut National Institute of Health, vitamin C tidak mengurangi risiko tertular flu, tetapi mereka yang mengonsumsinya mungkin durasi sakitnya bisa dikurangi atau lebih ringan.

Ahli nutrisi Kamal Patel mengatakan, tidak benar jika vitamin C dosis tinggi dapat menjadi pendorong (booster) sistem imun. Ia mengibaratkan sistem imun seperti sistem misil yang bekerja untuk menghalau segala bahaya.

Jika sistem imun dibuat terlalu peka, maka yang timbul adalah reaksi autoimun. Sebaliknya, jika kurang peka maka seseorang akan lebih gampang tertular penyakit.

“Sistem imun sangat kompleks dan sangat sedikit yang sudah kita ketahui. Jadi, sayangnya kita tidak bisa menggunakan sesuatu yang disebut ‘booster’ untuk membuat sistem ini bekerja lebih baik,” kata Patel.

Pasien Covid-19 diberi vitamin C

Rumah sakit di New York dan juga Wuhan memang memberikan vitamin C dosis tinggi pada pasien yang dirawat karena Covid-19. Dosisnya 16 kali lebih tinggi dari pada dosis harian individu yang sehat.

Menurut Patel, pemberian vitamin C pada pasien itu masuk akal karena orang yang sangat sakit kadar vitamin C dalam tubuhnya jadi rendah dan butuh segera digantikan.

“Manusia adalah satu-satunya mamalia yang tubuhnya tidak bisa membuat sendiri vitamin C, mereka harus mengasupnya. Jadi, ketika menghadapi stres psikologis yang berat, pemberian vitamin C lewat infus merupakan cara untuk mendapatkan antioksidan dan anti-inflamasi,” paparnya.

Saat ini para dokter masih mempelajari efek pemberian vitamin C pada pasien Covid-19. Setidaknya ada dua penelitian klinis yang dilakukan yaitu di Italia dan China. Di Hubei, China, 140 pasien Covid-19 yang menderita pneumonia diberikan 12 gram vitamin C lewat infus untuk mengetahui apakah dosis itu bisa melawan penyakit.

Walau demikian, siapa pun tidak direkomendasikan untuk melakukan uji coba semacam itu sendiri. Mendapatkan vitamin C lewat infus sangat berbeda dengan konsumsi suplemen, bahkan kita pun seharusnya berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum mengasup vitamin C dosis tinggi.

“Sejauh ini tidak ada riset yang menunjukkan vitamin C bisa melindungi tubuh dari virus corona,” kata profesor biologi Miryam Wahrman, seperti dikutip dari Insider.

Kekurangan vitamin C memang berdampak buruk bagi tubuh, tetapi kita juga jangan berlebihan mengonsumsinya. Apalagi kadar yang tinggi bisa memicu pembentukan batu ginjal.

Untuk memenuhi asupan vitamin tubuh, sebaiknya konsumsi makanan karena dapat diserap dan digunakan tubuh secara lebih baik ketimbang melalui suplemen.

Editor : Lusia Kus Anna

kompas.com

read more
Health

Terjawab! Waktu Terbaik untuk Berjemur adalah… Tidak Ada

LANGITKU NETWORKS – Perdebatan tentang waktu terbaik untuk berjemur seolah tak pernah mencapai titik temu. Broadcast-broadcast yang beredar di media sosial telah membuat netizen terbelah jadi 2 kubu: pendukung berjemur jam 10 ke atas, dan pendukung berjemur jam 10 ke bawah.

Sebelum latah ikut-ikutan bertengkar dan cakar-cakaran, yuk pelajari dulu teorinya. Dokter spesialis kulit dan staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNPAD/RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr R.M. Rendy Ariezal Effendi, SpDV, menjelaskan bahwa tujuan utama seseorang berjemur adalah untuk mendapatkan vitamin D yang baik untuk daya tahan tubuh.

“Kalau tujuannya untuk mendapatkan vitamin D, anjuran berjemur di atas jam 10 bisa saja dilakukan. Tapi dari sisi kesehatan kulit, ada risikonya,” kata dr Rendy dalam perbincangan dengan detikcom.

Berjemur di atas jam 10, di satu sisi dipercaya memberikan paparan ultraviolet B (UVB) paling maksimal. Paparan UVB itulah yang dibutuhkan oleh tubuh untuk meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh. Meskipun demikian, UV Index (UVI) umumnya sudah tinggi pada jam tersebut.

“Risikonya antara lain bisa flek atau tanning kalau tanpa pelindung seperti sunblock,” jelas dr Rendy.

“Selain itu, paparan sinar UVB yang terus menerus dan berlebihan tanpa proteksi dapat meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari,” tambahnya.

UV Index lebih menentukan

Menurut dr Rendy, tidak ada guideline yang secara spesifik menentukan waktu terbaik untuk berjemur. Banyak faktor yang mempengaruhi, misalnya cuaca dan letak geografis. Jam 10 pagi di Jakarta misalnya, intensitas sinar mataharinya tentu berbeda dengan jam 10 pagi di Kopenhagen.

UV Index, disebutnya lebih relevan untuk dijadikan dipertimbangkan dalam memilih waktu terbaik untuk berjemur. Berjemur selama 15-30 menit ketika UV Index berada di angka 3-7, menurutnya cukup ideal dengan memperhitungkan rasio ‘risk and benefit’.

Bagaimana caranya mengetahui UV Index di suatu tempat? Ternyata gampang banget. Berbagai aplikasi perkiraan cuaca di smartphone umumnya sudah memberikan informasi cukup detail tentang berbagai indikator cuaca, termasuk UV Index.

Berarti mending berjemur pagi banget saat UV Index masih sangat rendah?

Nggak juga. Kalau terlalu pagi, intensitas UVB yang dibutuhkan oleh tubuh mungkin belum cukup. Butuh waktu lebih lama untuk mendapat manfaat yang sama, yang artinya makin lama pula terpapar ultraviolet lain yakni UVA.

“Untuk di negara tropis seperti Indonesia, berjemur sekitar pukul 9 pagi sudah cukup untuk meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh. Berjemur cukup dilakukan sebanyak 3 kali seminggu, agar proses metabolisme vitamin D juga menjadi lebih efektif. Selain itu, sinar UVA memiliki gelombang yang lebih panjang dan dapat menembus lapisan kulit lebih dalam,” kata dr Rendy.

“Ultraviolet A ini yang menyebabkan penuaan dini atau photoaging” lanjutnya.

Tak cukup hanya dengan berjemur

Untuk mendapatkan asupan vitamin D yang cukup, dr Rendy mengingatkan bahwa asupan nutrisi juga harus diperhatikan. Kebutuhan vitamin D, bagaimanapun tidak bisa dipenuhi hanya dengan berjemur.

Bahkan, ia tidak menganjurkan berjemur terlalu sering. Berjemur seminggu 3 kali menurutnya sudah cukup ideal, dengan syarat 60 persen permukaan tubuh terpapar, selama 15-30 menit, dan dengan kondisi UV Index di rentang 3-7. Jangan lupa, pakai sunblock agar kulit tidak terbakar.
AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

read more
Health

Bahan Alami yang Efektif untuk Mencuci Buah dan Sayur

LANGITKU NETWORKS – Fenomena merebaknya virus corona atau Covid-19 membuat masyarakat semakin waspada akan kebersihan diri dan lingkungan. Air dan sabun adalah senjata utama dalam memerangi Covid-19 masuk ke dalam tubuh.

Akan tetapi, bagaimana dengan kebersihan bahan makanan, seperti sayur atau buah, yang baru kita beli?

Haruskah kita mencucinya dengan sabun dan air layaknya kita mencuci tangan guna mencegah penyebaran virus corona?

Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, mencuci sayur dan buah sebelum dimasak atau disimpan adalah langkah penting untuk memastikan buah dan sayur aman dari pestisida dan bakteri, seperti salmonella, listeria, dan E. coli, yang biasa menempel pada buah dan sayuran.

Meminimalisir kontaminasi dari bahan makanan yang kita bawa dari luar rumah dapat menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan kita dan keluarga.

Cara paling umum untuk mencuci sayur dan buah adalah dengan mencucinya di bawah air mengalir.

Suatu penelitian membuktikan bahwa air mengalir terbukti mengurangi jumlah residu sembilan macam pestisida dari 12 pestisida yang diujikan.

Namun jika dibandingkan dengan air mengalir saja, studi tersebut juga mengungkapkan bahwa produk pembersih khusus terbukti lebih efektif dalam menghilangkan kontaminan.

Satu hal yang perlu kita perhatikan ketika membersihkan buah dan sayuran adalah jangan mencucinya dengan sabun yang biasa digunakan untuk mencuci tangan atau mandi.

Jangan pula menyemprotkannya dengan alkohol atau cairan disinfektan. Keduanya tidak aman untuk digunakan sebagai pembersih makanan karena bisa ikut termakan dan dapat mengakibatkan gangguan pencernaan hingga keracunan.

  1. Mencuci dengan sabun dan air boleh saja selama sabunnya bertaraf food grade yang bisa dilihat di kemasannya.

Status food grade menandakan bahan-bahan yang terkandung dalam sabun tersebut aman untuk digunakan langsung pada bahan makanan.

Tapi tahukah Anda, selain bahan kimia seperti sabun, bahan-bahan alami yang ada di dapur pun tak kalah efektif dalam membersihkan sayur dan buah dari kuman dan kotoran, lho.

Bahan-bahan alami untuk mencuci sayur dan buah

Kita dapat memanfaatkan beberapa bahan dapur berikut sebagai sabun alami untuk mencuci sayur dan buah yang baru dibeli,

1. Air cuka

  • Campurkan cuka ke dalam air dengan perbandingan 1 bagian cuka/3 bagian air. Contoh: 1 cangkir cuka dicampurkan ke dalam 3 cangkir air.
  • Rendam sayur dan buah selama 20 menit dalam larutan air cuka tersebut.

Berdasarkan sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal penelitian Food Control, terbukti bahwa larutan air dan cuka yang dapat menghilangkan residu pestisida.

Menurut Dr. Floyd Woods dan DR. Joe Kemble, professor hotikultura di Auburn University, cuka aman digunakan untuk mensanitasi permukaaan buah dan sayur.

Akan tetapi, tingkat efektivitasnya dipengaruhi kadar cuka dalam larutan, suhu air, serta luas area sayur dan buah yang terkena larutan tersebut. Oleh karena itu, pastikan untuk mengikuti takaran dan waktu rendam yang telah disarankan.

2. Air garam

  • Campurkan garam ke dalam air dengan perbandingan 1 bagian garam/10 bagian air. Contoh: 1 sendok garam dicampurkan ke dalam 10 sendok air.
  • Rendam sayur dan buah selama 20 menit dalam larutan air garam tersebut.

Masih dari penelitian yang sama dari Food Control, para peneliti juga menguji larutan air garam 10 persen yang terbukti efektif untuk menghilangkan residu pestisida.

Di antara air mengalir dan larutan air cuka, larutan air garam 10 persen lebih efektif dalam membersihkan sayur dan buah, serta dianggap lebih murah secara biaya jika dibandingkan larutan air cuka.

Bagi penderita tekanan darah tinggi, sebaiknya hindari cara ini dan gunakan cara lainnya sebagai alternatif untuk membersihkan buah dan sayuran.

3. Air baking soda/soda kue

  • Campurkan 8,5 gr (sekitar 2 sendok teh) soda kue ke dalam 1 liter air
  • Rendam sayur dan buah selama 12-15 menit dalam larutan soda kue.

Sebuah jurnal dari Agriculture and Food Chemistry yang meneliti penggunaan air soda kue, mengungkapkan bahwa dibandingkan air keran dan cairan pemutih, soda kue terbukti paling efektif membersihkan buah dan sayurdari residu pestisida.

Pada buah seperti apel, soda kue bereaksi tak hanya di permukaan namun juga membersihkan hingga ke bawah kulit apel.

Mencuci buah dan sayur dapat menangkis corona?

Berdasarkan pernyataan Departemen Pertanian Amerika Serikat terkait virus corona dan makanan, belum ada laporan yang menyebutkan Covid-19 dapat ditularkan melalui makanan atau kemasan makanan.

Oleh karena itu, meskipun terbukti efektif dalam mengurangi residu pestisida dan kelompok mikroorganisme tertentu, penelitian khusus mengenai efek mencuci sayur dan buah pada Covid-19 belum ada yang dilaporkan.

Sebagai alternatifnya, kita tetap disarankan untuk menjaga kebersihan diri dengan selalu mencuci tangan setelah berbelanja dan memegang kemasan.

Pindahkan bahan makanan ke dalam kontainer yang ada di rumah dan pisahkan dari kemasannya.

Jangan lupa untuk kembali membersihkan tangan sebelum dan sesudah memasak, atau ketika akan makan dan sesudahnya.

Editor : Wisnubrata

Sumber : SehatQ

 

read more
Health

Cemas Karena COVID-19 Hingga Sulit Tidur? Berikut yang Bisa Dilakukan

LANGITKU NETWORKS – Apakah rasa khawatir mengenai COVID-19 membuat Anda menjadi sulit tidur? Berikut sejumlah panduan yang membantu Anda tidur nyenyak.

Batasi berita, terutama sebelum tidur

Menurut konsultan ganggaun tidur, Maryanne Taylor, menghentikan kebiasaan melihat layar gawai sebelum tidur menjadi kunci untuk istirahat lebih nyenyak. Selain karena efek stimulasi dari cahaya biru, kita juga merasa kewalahan karena membaca berita buruk. Membaca berita sebelum tidur dapat menyebabkan lonjakan adrenalin yang akan menghambat tidur.

Penting untuk tetap mengikuti informasi, tapi dilakukan sewajarnya saja, kata Taylor. Hindari membaca berita di malam hari karena dapat menjadi sumber kekhawatiran yang membuat kita tidak bisa tidur nyenyak.

Kosongkan pikiran

Jika Anda menonton TV di malam hari, ahli tidur Katie Fischer menyarankan untuk beralih ke acara komedi karena dapat “menjauhkan pikiran cemas”.

Selain itu, Taylor menyarankan agar Anda meluangkan waktu untuk menulis sebelum tidur. Ini bisa membantu menjernihkan pikiran Anda. “Pikiran buruk, kecemasan, kekhawatiran, tuliskan di atas kertas,” ujar Taylor.

Siapkan “sarang” Anda

Jika Anda kesulitan untuk tidur, atau sering terbangun di malam hari, jangan berbaring lama di sana. Buat “sarang” di ruangan lain yang membantu Anda lebih rileks, dilengkapi dengan buku, podcast, atau musik yang menenangkan (tidak ada TV atau telepon).

“Ketika mulai merasa sedikit lebih mengantuk, barulah Anda kembali ke tempat tidur,” saran Taylor.

Atur pernapasan Anda

Fischer mengatakan, pernapasan perut dapat meringankan gejala kecemasan yang meliputi pikiran sibuk, otot tegang, detak jantung yang lebih cepat atau napas yang dangkal. Salah satu teknik sederhana adalah “sama vritti”, atau “pernapasan yang sama”.

Cara melakukannya: berbaring telentang dengan satu tangan di atas perut dan satu tangan di hati, biarkan pundak dan pinggul rileks. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung Anda selama empat hingga enam hitungan, isi perut Anda, kemudian tulang rusuk, lalu dada bagian atas, seolah-olah melebarkan balon.

Saat paru-paru Anda penuh, diam sejenak, lalu buang napas melalui hidung dengan panjang dan halus. Berhentilah lagi ketika paru-paru Anda dikosongkan. Ulangi ini selama lima hingga 10 menit atau sampai Anda merasa siap untuk tidur.

Atur jadwal 

Sebelumnya, kata Taylor, hambatan terbesar untuk tidur adalah stres yang tak henti-hentinya. Menyusun hari-hari Anda dengan rutinitas bangun dan bersantai dan waktu rutin untuk bekerja, makan, dan berolahraga akan membantu Anda tetap fokus.

Source : The Guardian
Penulis : 1
Editor : Gita Laras Widyaningrum
Nationalgeographic.co.id

read more
Health

Terlalu Banyak Konsumsi Garam Dapat Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh

LANGITKU NETWORKS – Mengonsumsi terlalu banyak garam yang kita dapatkan dari keripik, keju, sereal, popcorn, maupun makanan berat lainnya, secara signifikan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Hal ini tentu bukanlah kabar baik bagi tubuh di tengah maraknya virus corona. Untuk penelitian tersebut, para peneliti di University Hospital Bonn di Jerman memberi makan manusia dan tikus dengan diet tinggi garam selama seminggu.
Para peserta yang mengonsumsi enam gram garam tambahan setiap hari menunjukkan penurunan kekebalan tubuh yang nyata. Sederhananya, terlalu banyak garam dapat memicu ginjal dan memicu penumpukan hormon yang disebut glukokortikoid, yang dapat merusak sel kekebalan yang ada dalam darah yang dikenal sebagai granulosit. Ini membuat tubuh lebih sulit untuk memerangi bakteri secara efektif. kemudian, bahwa tikus berakhir dengan infeksi bakteri yang parah. “Dalam limpa dan hati hewan-hewan ini, kami menghitung 100 hingga 1.000 kali jumlah patogen penyebab penyakit,” kata penulis utama Katarzyna Jobin. Selain itu, kasus ISK sembuh jauh lebih lambat ketika tikus makan lebih banyak garam. Itu menimbulkan pertanyaan, berapa banyak sebenarnya garam yang harus kita makan? Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (alias, WHO), 5 gram garam per hari, itu setara dengan sekitar satu sendok teh, meskipun makanan olahan juga sering mengandung sodium yang tinggi.

Penulis : Dian Reinis Kumampung
Editor : Bestari Kumala Dewi / kompas.com

read more
Health

5 Kondisi Ini Akan Terjadi Pada tubuh Saat Kamu Berhenti Minum Kopi

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Bagi pencinta kopi yang akan berhenti bersiaplah akan perubahan pada kondisi tubuh. Turun berat badan hingga sulit konsentrasi.

Kopi merupakan salah satu minuman favorit banyak orang. Rasanya yang pahit dan aromanya yang sedap membuat banyak orang tidak bisa melewatkan hari tanpa minum kopi.

Kopi juga dikenal mengandung kafein yang tinggi. Kafein membantu seseorang mendapatkan asupan antioksidan harian mereka sehingga metabolisme pada tubuh akan meningkat.

Bagi pencinta kopi sulit rasanya untuk mengurangi konsumsi kopi harian mereka. Setidaknya mereka akan mengonsumsi kopi satu cangkir per hari. Bisa diminum saat sarapan, siang hari saat tubuh mulai lelah, atau malam hari.

Lalu bagaimana jika mereka tidak mengonsumsi kopi lagi? Dilansir dari Bright Side (28/3), berikut 5 kondisi tubuh yang akan terjadi saat kamu tidak lagi minum kopi.

1. Berat Badan Naik

Kopi dikenal dengan kandungan kafeinnya yang tinggi. Kafein ini dapat membantu meningkatkan metabolisme pada tubuh. Artinya tubuh akan membakar kalori lebih efisien.

Terutama bagi mereka yang mengonsumsi kopi hitam setiap harinya. Yang tadinya tubuh dapat membakar lemak dengan mengonsumsi kopi kini tidak lagi terjadi. Karena itu kenaikan berat badan dapat terjadi.

Tapi efek positif didapat mereka yang terbiasa minum kopi dengan campuran susu atau lemak lainnya seperti cappuccino, frappuccino, kopi susu, dan lainnya. Berhenti minum kopi tersebut akan membuat kamu kehilangan berat badan karena tidak lagi mengonsumsi banyak kalori.

2. Lebih Sulit Konsentrasi

Kopi yang kandungan kafeinnya tinggi ini sering disebut dapat menghilangkan rasa kantuk. Tak heran banyak yang mengonsumsinya pada siang atau malam hari. Kopi juga dikonsumsi untuk menambah semangat dalam menjalani hari.

Karena saat meminum kopi akan membuat orang lebih terjaga. Ini akan merangsang pelepasan dopamin dan adrenalin sehingga dapat meningkatkan aktivitas otak dan meningkatkan tekanan darah.

Karenanya saat kamu berhenti minum kopi, kamu akan lebih sulit dalam berkonsentrasi. Kamu juga akan lebih mudah ngantuk. Ini dikarenakan otak kamu tidak lagi distimulasi seperti dulu.

3. Akan Alami Tremor

Tremor adalah gerakan yang tidak terkendali pada satu atau lebih dari bagian tubuh. Hal ini dapat terjadi karena bagian otak yang mengontrol mengalami masalah. Bagian tubuh yang sering mengalami tremor adalah tangan.

Tremor dapat terjadi bagi yang sedang mengurangi atau berhenti minum kopi. Ini karena kafein yang merupakan sumber stimulasi kuat untuk sistem saraf pusat (otak) berhenti memberi asupan. Namun tak perlu khawatir karena ini adalah gejala biasa.

Gejala tremor pada tangan atau bagian tubuh akan dialami selama 9 hari sejak kamu memutuskan berhenti untuk minum kopi. Tak hanya terjadi bagi yang berhenti minum kopi saja, ini juga dapat terjadi pada mereka yang kecanduan kafein.

4. Kecemasan dan Sakit Kepala Akan Muncul

Kecemasan dapat terjadi pada siapa saja. Sekalipun mereka yang masih tetap meminum kopi. Namun saat kamu berhenti minum kopi, rasa cemas akan lebih meningkat.

Ini terjadi karena ketidakseimbangan kimia di otak yang disebabkan oleh pasokan kafein yang tidak tercukupi. Selain kecemasan, sakit kepala juga akan sering muncul jika kamu berhenti minum kopi.

Saat kamu kekurangan asupan kafein, ini akan membuat pembukaan pada pembuluh darah. Sehingga meningkatkan sirkulasi darah ke otak. Namun setelah tubuh kamu dapat beradaptasi dengan peningkatan aliran darah tersebut, perlahan sakit kepala akan memudar.

5. Akan Mudah Lelah

Salah satu alasan bagi setiap orang mengonsumsi kopi adalah agar lebih bersemangat menjalani hari. Maka itu kopi sering dijadikan teman untuk menyantap sarapan. Karena meminum kopi di pagi hari dipercaya dapat meningkatkan energi harian.

Efek energi tersebut akan berlangsung selama 5 jam pertama. Setelahnya kamu akan merasa lelah dan akan meminum kopi lagi. Kopi ini juga akan membantu kamu mendapatkan fokus dalam bekerja.

Saat kamu sudah kecanduan kafein, akan terasa sulit saat menghentikan konsumsi kafein. Tubuh akan terasa mudah lelah dan kamu lebih cepat kehilangan konsentrasi.

Yenny Mustika Sari – detikFood

read more
Health

Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental dalam Masa Wabah COVID-19?

LANGITKU NETWORKS – Masyarakat Indonesia tengah berperang melawan wabah. Kebijakan untuk mengisolasi mandiri di rumah mungkin bukan hal yang mudah untuk sebagian orang. Wajar untuk merasakan stres, cemas, sedih, dan kekhawatiran selama pandemi ini terjadi.

Semua orang bisa punya respon yang berbeda dalam menanggapi momen ini. Menjaga kesehatan mental selama keadaan darurat akan membantu Anda berpikir jernih dan bereaksi tepat terhadap kebutuhan mendesak untuk melindungi diri sendiri dan keluarga Anda.

Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan dalam menjaga kesehatan mental selama masa darurat, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC):

Jaga kesehatan tubuh

Konsumsi makanan sehat dan seimbang, berolahraga secara teratur, dan banyak beristirahat. Hindari alkohol, rokok, dan obat-obatan lainnya.

Terhubung dengan orang lain

Bagikan kekhawatiran dan ungkapkan perasaan Anda dengan teman atau anggota keluarga. Pertahankan hubungan yang sehat, dan bangun support system atau relasi yang kuat.

Beristirahat

Coba tarik napas dalam-dalam dan luangkan waktu untuk bersantai. Lakukan kegiatan yang biasanya Anda nikmati, seperti menonton drama, membaca majalah, atau sekadar membereskan lemari baju.

Tetap cari tahu informasi

Ketika merasa kehilangan informasi, Anda mungkin menjadi lebih stres atau gelisah. Tonton, dengarkan, atau baca berita untuk mendapat update dari sumber terpercaya. Sadarilah bahwa mungkin ada rumor atau hoaks selama krisis, terutama di media sosial. Oleh sebab itu, dapatkan informasi dari sumber berita yang terpercaya.

Kurangi menonton berita

Meski harus tetap mendapat informasi, tapi sebaiknya jangan terlalu sering menonton atau membaca berita. Cobalah untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan dan kembali ke kehidupan normal sebanyak mungkin dan periksa update informasi di antara waktu istirahat.

Mencari bantuan saat dibutuhkan

Jika wabah COVID-19 cukup mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat Anda tidak nyaman, coba bicarakan dengan pemuka agama, penasihat, dokter, atau psikolog.

Source : CDC
Penulis : 1
Editor : Gita Laras Widyaningrum
Nationalgeographic.co.id

read more
Health

Studi: Mengonsumsi Cabai Mengurangi Risiko Serangan Jantung dan Stroke

LANGITKU NETWORKS – Selama bertahun-tahun, cabai telah dipuji karena sifat terapeutiknya. Kini, para peneliti menemukan fakta bahwa makan cabai secara teratur dapat mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung dan stroke.

Dilakukan di Italia, di mana cabai adalah bahan masakan yang umum dipakai, penelitian ini membandingkan risiko kematian pada 23 ribu orang. Beberapa di antaranya kerap makan cabai dan yang lain tidak.

Status kesehatan dan kebiasaan makan partisipan dipantau selama delapan tahun. Hasil studi yang dipublikasikan pada Journal of American College of Cardiology tersebut, menunjukkan bahwa risiko kematian akibat serangan jantung 40% lebih rendah pada mereka yang mengonsumsi cabai setidaknya empat kali per minggu.

“Dengan kata lain, seseorang dapat mengikuti diet Mediterania yang sehat, tetapi bagi mereka semua cabai memiliki efek perlindungan,” kata Marialaura Bonaccio, pemimpin penelitian sekaligus ahli epidemiologi di Mediterranean Neurological Institute (Neuromed).

Licia Iacoviello, direktur departemen epidemiologi dan pencegahan di Neuromed yang juga seorang profesor di Universitas Insubria di Varese, menjelaskan bahwa khasiat cabai telah diturunkan melalui budaya makanan Italia.

“Dan sekarang, seperti yang telah diamati di Tiongkok dan di Amerika Serikat, kita tahu bahwa berbagai tanaman dari spesies capsicum–meskipun dikonsumsi dengan cara yang berbeda di seluruh dunia–dapat mengerahkan tindakan perlindungan terhadap kesehatan kita,” kata Iacoviello.

Saat ini, para peneliti berencana menyelidiki mekanisme biokimia seperti apa yang membuat cabai baik bagi kesehatan manusia.

Ian Johnson, seorang ahli nutrisi di Quadram Institute Bioscience di Norwich, Inggris, memuji studi tersebut sebagai “penelitian observasional berkualitas tinggi” untuk “metode yang kuat.”

Namun, ia mengatakan, tidak ada mekanisme perlindungan yang diidentifikasi. Para ilmuwan juga tidak menemukan bahwa makan lebih banyak cabai memberikan manfaat kesehatan tambahan.

“Jenis hubungan ini menunjukkan bahwa cabai mungkin hanya penanda untuk beberapa faktor diet atau gaya hidup lain yang belum diperhitungkan tetapi, untuk bersikap adil, ketidakpastian semacam ini biasanya hadir dalam studi epidemiologi, dan penulis mengakui hal ini,” kata Johnson.

Source : CNN
Penulis : 1
Editor  : Gita Laras Widyaningrum
Nationalgeographic.co.id

read more
Health

Benarkah Mandi dengan Air Hangat Lebih Baik untuk Kesehatan Jantung?

LANGITKU NETWORKS – Mandi dengan air hangat mungkin menjadi salah satu pilihan terbaik untuk mengakhiri hari. Selain membuat tubuh menjadi lebih rileks, sebuah penelitian terbaru menyebutkan bahwa mandi air hangat juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Sebuah studi yang diunggah di jurnal Heart menemukan fakta bahwa mandi air hangat setiap hari dikaitkan dengan 28% risiko lebih rendah terhadap penyakit jantung dan 26% stroke. Para peneliti mengatakan, ini mungkin karena mandi juga berkaitan dengan penurunan tekanan darah.

Mereka mendapatkan hasil ini setelah melacak kebiasaan mandi dan risiko penyakit kardiovaskular pada lebih dari 61.000 orang dewasa Jepang selama 20 tahun.

“Kami menemukan bahwa sering mandi (di bath-up) dapat secara signifikan berkaitan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah. Juga memberikan efek menguntungkan pada rendahnya risiko (penyakit kardiovaskular) sehingga menurun juga kemungkinan pengembangan hipertensi,” ungkap para peneliti dalam siaran pers.

Partisipan berusia 40 hingga 59 tahun yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung diteliti dari tahun 1990 hingga 2009. Pada awal riset, mereka dipisahkan menjadi kelompok-kelompok berdasarkan seberapa sering mereka mandi di bak: kurang dari sekali seminggu, satu hingga dua kali per minggu, hampir setiap hari atau setiap hari.

Para peneliti juga mengumpulkan informasi tentang faktor-faktor yang berpotensi berpengaruh, seperti berat badan peserta, status merokok, seberapa sering mereka berolahraga, konsumsi alkohol, status pekerjaan, pendidikan, berapa lama mereka tidur, tekanan mental yang dirasakan, dan kenikmatan hidup.

Berdasarkan deskripsi peserta, suhu air juga amat penting. Mereka menemukan bahwa semakin banyak peserta mandi dengan air hangat, semakin rendah risiko mereka untuk penyakit kardiovaskular. Risiko 26% lebih rendah untuk penyakit jantung dan 35% untuk penyakit kardiovaskular bila mandi dengan air hangat.

Kenapa mandi bisa menyehatkan jantung?

Bak mandi atau bathup dianggap memiliki efek pencegahan terhadap penyakit jantung dengan meningkatkan apa yang disebut “fungsi hemodinamik,” sebut laporan tersebut. Ini menggambarkan cara darah dipompa secara efisien melalui tubuh, kata Dr. Eric Brandt, seorang ahli jantung dan lipidologis di Rumah Sakit Yale New Haven.

Fungsi hemodinamik yang baik akan berarti bahwa jantung mampu memompa darah secara efisien tanpa harus berjuang melawan kondisi seperti tekanan darah tinggi.

“Fungsi hemodinamik yang baik diterjemahkan menjadi tekanan darah rendah atau keadaan tekanan darah normal, di mana jantung mampu memompa secara efisien dan mendapatkan darah ke semua organ,” kata Brandt.

“Hemodinamik yang buruk adalah kondisi tekanan darah tinggi atau rendah yang ekstrem di mana jantung harus bekerja lebih keras.”

“Sepertinya mandi di bak mirip dengan olahraga karena meningkatkan kerja jantung, (tetapi) melakukannya dengan merelaksasi pembuluh darah dan memompa darah ke bagian lain dari tubuh. Jadi itu menciptakan pekerjaan sementara yang ekstra untuk jantung, tapi bukan konsekuensi negatif,” paparnya.

Faktor-faktor lain untuk dipertimbangkan

Sementara penelitian menunjukkan bahwa mandi setiap hari dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung, itu bukan satu-satunya faktor yang perlu dipertimbangkan.

Lebih sedikit mandi juga belum tentu menjadi penyebab risiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Studi ini tidak menanyakan kepada peserta alasan mereka mandi lebih jarang yang sebetulnya bisa mengungkapkan kondisi kesehatan.

Brandt tidak yakin bahwa mandi adalah satu-satunya faktor utama untuk temuan studi ini dimana risiko penyakit jantung lebih rendah; itu lebih mungkin, katanya, bahwa secara teratur mandi air hangat atau panas “dapat memiliki perubahan fisiologis sementara, yang mirip dengan olahraga,” dan faktor-faktor gaya hidup sehat lainnya ikut berperan.

Orang-orang di Amerika, di mana penyakit jantung adalah pembunuh nomor 1, mungkin tidak menemukan manfaat yang sama dengan yang ada dalam penelitian ini karena penyakit pada orang Amerika didominasi faktor gaya hidup, kata Brandt.

“Populasi kami sangat berbeda dari Jepang, dan gaya hidup khususnya,” kata Brandt. “Risikonya mungkin berbeda untuk orang Amerika dibandingkan dengan Jepang dalam konteks di mana kami membawa beban yang lebih berat dari penyakit kronis yang berhubungan dengan gaya hidup. Saya akan mengatakan bahwa di antara pasien di mana ini bisa diterapkan adalah di antara orang-orang hingga usia 70-an, dengan mandi di bak mandi. Setidaknya tidak ada sinyal dalam studi tentang kerusakan kardiovaskular. ”

Penelitian sebelumnya yang melibatkan paparan panas telah menemukan hubungan yang serupa dengan yang ada dalam studi saat ini: Sebuah studi tahun 1999 pada delapan orang dengan diabetes menemukan mandi menyebabkan glukosa darah puasa lebih rendah, dan mandi sauna telah dikaitkan dengan penurunan kematian jantung mendadak dan risiko penyakit jantung.

Meskipun hanya ada hubungan antara mandi dan risiko penyakit jantung yang lebih rendah, mandi kemungkinan tidak menyebabkan bahaya kardiovaskular jika dilakukan dengan aman, kata Brandt.

Source : CNN
Penulis : 1
Editor : Gita Laras Widyaningrum Nationalgeographic.co.id
read more
Health

Viral Jam 10 Waktu Terbaik untuk Berjemur, Ini Tips Agar Tidak Gosong

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Berjemur di sekitar jam 10 pagi disebut memberikan manfaat optimal bagi kesehatan. Informasi yang beredar dalam sebuah pesan viral ini memang ada benarnya, tetapi apa nggak gosong kalau kepanasan?

Ahli kanker dari RS Cipto Mangunkusumo, Dr dr Andhika Rachman, SpPD-KHOM, berjemur tidak serta merta memicu kecenderungan kanker kulit. Ada banyak faktor yang mempengaruhi, termasuk kadar pigmen melanin atau warna kulit.

“Orang-orang dengan kadar melanin rendah seperti orang Eropa biasanya lebih rentan,” jelasnya.

Dalam kaitannya dengan peningkatan imunitas tubuh, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berjemur agar manfaatnya optimal.

1. Jam 8-11 adalah waktu ideal

Untuk wilayah tropis, menurut dr Andhika, paparan provitamin D pada waktu-waktu tersebut lebih dominan dibanding ultraviolet. Di atas jam 11, kadar sinar ultraviolet akan semakin tinggi.

“Kalau seperti di Eropa tentu teriknya berbeda,” jelasnya.

Selain itu, pengidap gangguan autoimun seperti lupus juga perlu menghindari berjemur di atas jam 11 pagi. Pada beberapa kasus, berjemur terlalu siang bisa memicu flare up atau kekambuhan.

2. Durasi 30 menit

Lamanya berjemur tentu dipengaruhi banyak hal, termasuk kondisi cuaca. Tapi umumnya, 30 menit sudah cukup memberikan manfaat.

3. Paparan 60 persen permukaan tubuh

Menurut dr Andhika, manfaat berjemur akan optimal jika paparan sinar matahari mengenai 60 persen luas permukaan tubuh. Kisaran tersebut bisa dicapai misalnya dengan mengenakan baju lengan pendek, celana kolor, tanpa penutup kepala atau payung.

“Ada yang sampai membuka punggung, itu sebenarnya tidak perlu. Apalagi sampai nude (telanjang),” saran dr Andhika.

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

read more
1 11 12 13 14 15
Page 13 of 15